Skip to content
Royal desk
Agustus 28, 2026 JurnalNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

Dilema Ruang Publik Jakarta: Jalur Sepeda Kramat Raya Berubah Jadi ‘Pangkalan’ Bajaj

Karen Johnson - jurnalnaya.com 3 mins read

Sebuah dilema ruang publik terus berlangsung di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Jalur sepeda yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pesepeda justru berubah

Jalur Sepeda Kramat Raya Jadi Pangkalan Bajaj: Antara Kebutuhan Sopir dan Fungsi Publik

Jurnalnaya.com – Sebuah dilema ruang publik terus berlangsung di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Jalur sepeda yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pesepeda justru berubah menjadi area tunggu armada bajaj. Para sopir memanfaatkan ruas tersebut untuk ngetem dan menunggu penumpang datang.

Praktik yang Sudah Lama Berlangsung

Fenomena ini bukan hal baru. Bahkan sebelum jalur sepeda resmi dibangun pada tahun 2022, ruas jalan tersebut sudah lama “diduduki” oleh kendaraan bajaj. Dinas Perhubungan (Dishub) berulang kali menggelar razia untuk menertibkan kendaraan yang parkir sembarangan di jalur sepeda. Akan tetapi, para sopir kerap bermain kucing-kucingan dengan petugas. Begitu razia usai, mereka kembali menduduki jalur di Jalan Raya Kramat.

“Dulu pernah diusir, kapan hari ada razia juga. Kalau (ada razia) gitu ya kita putar dulu, nanti balik lagi (ke Jalan Kramat Raya),” kata sopir bajaj, Iim, kepada Metrotvnews.com, Senin, 24 Agustus 2026.

Iim menjelaskan bahwa penumpang yang mereka layani beragam: pasien yang sedang berobat di Rumah Sakit Kramat, pekerja kantoran, hingga jemaat gereja yang tersebar sepanjang Jalan Kramat Raya. Sebenarnya tersedia opsi untuk mangkal di dalam gang guna menghindari razia, tetapi hal itu akan mempersulit mereka dalam mencari penumpang.

Pandangan Sopir Lain: Jalur Sepeda Dinilai Berbahaya

Sopir bajaj lainnya, Komar, justru menyoroti keberadaan jalur sepeda itu sendiri. Menurutnya, jalur tersebut malah membahayakan pengguna jalan lain.

“Bahaya malah menurut saya (jalur sepeda). Dulu orang jatuh pas masih ada kerucut (traffic cone) itu, malah (sering) kecelakaan. Abis itu dicopotin,” ujar Komar.

Komar juga menilai jumlah pesepeda saat ini sudah sangat sedikit. Ia berpendapat bahwa lonjakan pengguna sepeda sebelumnya dipicu oleh wabah covid-19.

“Musiman itu. Pas sudah gak covid gak ada lagi (orang bersepeda),” jelas Komar.

Bagi Iim maupun Komar, memanfaatkan jalur sepeda yang relatif sepi dari pesepeda merupakan cara mereka mencari nafkah. Keduanya berharap jalur tersebut tetap bisa mereka gunakan tanpa kekhawatiran dirazia, terutama jika status jalur sepeda dihapus.

Suara Berbeda dari Pedagang Keliling

Wacana berbeda datang dari Rama, pedagang kopi keliling yang beraktivitas di kawasan tersebut. Ia justru berharap jalur sepeda dipertahankan karena keramaian pengguna jalan meningkatkan peluangnya memperoleh penghasilan.

“Jalur (sepeda) ini kan penting ya, if bisa jangan (digusur). Saya sih enggak setuju (digusur). Apalagi sekarang banyak UMKM brand-brand (gerobak keliling) kaya gini,” kata Rama.

Perbedaan kepentingan ini memperlihatkan kompleksitas pengelolaan ruang publik di Jakarta: kebutuhan ekonomi para sopir bajaj berbenturan dengan fungsi jalur sepeda sebagai infrastruktur mobilitas aktif, sementara pedagang keliling melihat keramaian sebagai peluang ekonomi tersendiri.

Frequently Asked Questions

What is Dilema Ruang Publik Jakarta?

Dilema Ruang Publik Jakarta is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Dilema Ruang Publik Jakarta matter?

Dilema Ruang Publik Jakarta matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a reply