BPS Ungkap Penyebab DTSEN Tidak Gunakan Pendapatan dan Perubahan Desil
Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS), M. Nashrul Wajdi, menjelaskan bahwa Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) memilih
Mengapa DTSEN Mengandalkan Pengeluaran, Bukan Pendapatan, sebagai Ukuran Kesejahteraan
Jurnalnaya.com – Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS), M. Nashrul Wajdi, menjelaskan bahwa Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) memilih pengeluaran rumah tangga sebagai proksi utama dalam mengukur taraf kesejahteraan. Keputusan ini diambil karena hingga saat ini pemerintah belum memiliki catatan pendapatan yang mencakup seluruh keluarga di Indonesia.
“Sebenarnya, idealnya kita untuk menyusun tingkat kesejahteraan harusnya pakai pendapatan, tapi sampai sekarang kan kita tidak punya data pendapatan,” ujar Nashrul, dalam program Top Economy, Selasa, 25 Agustus 2026, pukul 21.05 WIB di Metro TV.
Landasan Konstruksi DTSEN
Secara historis, DTSEN dirakit dari tiga sumber data utama, yaitu P3KE, DTKS, dan Regsosek. Ketiga komponen tersebut kemudian diintegrasikan dan disinkronkan dengan data Dukcapil sehingga menghasilkan DTSEN dalam versi pertamanya. Proses penggabungan ini menjadi fondasi bagi seluruh analisis kesejahteraan berbasis data tunggal.
Mekanisme Desil dalam DTSEN
Dalam kerangka DTSEN, sejumlah variabel digunakan sebagai proksi untuk menilai tingkat kesejahteraan setiap rumah tangga. Seluruh keluarga di Indonesia kemudian diurutkan berdasarkan skor proksi tersebut dan dipartisi menjadi sepuluh kelompok berukuran hampir setara.
“Intinya sebenarnya desil itu adalah pembagian seluruh masyarakat Indonesia, seluruh keluarga, menjadi 10 kelompok sama besar,” jelasnya.
Kendala Pendataan Pendapatan
Nashrul menegaskan bahwa lebih dari separuh tenaga kerja Indonesia terserap di sektor informal, sehingga pencatatan pendapatan kelompok tersebut menjadi sangat sulit dilakukan. Selain itu, terdapat kecenderungan umum di mana responden cenderung merendahkan angka penghasilan yang mereka laporkan.
“Dan cenderungnya adalah kalau kita melihat data penghasilan, itu cenderung orang akan mengecil-ngecilkan penghasilannya,” katanya.
Di sisi lain, pengeluaran untuk kebutuhan pokok dinilai lebih homogen dan konsisten lintas kelompok sosial, sehingga mampu menjadi indikator kesejahteraan yang lebih andal dibandingkan data pendapatan yang sulit diperoleh secara akurat.
“Lebih dari 30 variabel yang kita gunakan, salah satunya pengeluaran,” ucapnya.
Perubahan Posisi Desil: Relatif dan Dinamis
Menurut Nashrul, posisi desil seseorang bersifat relatif dan dapat bergeser seiring pemutakhiran data yang dilakukan secara berkala. Pembaruan tersebut membuka kemungkinan bagi suatu keluarga untuk berpindah masuk atau keluar dari kelompok desil tertentu.
Konsekuensinya, seseorang yang semula termasuk dalam desil sasaran bantuan sosial dapat berpindah ke desil berbeda setelah data diperbarui. Nashrul menekankan bahwa fenomena ini merupakan konsekuensi wajar dari sifat pemeringkatan yang relatif.
“Desil ini dinamis, bisa jadi kasus itu (perubahan desil) terjadi. Desil ini kan dilakukan pemutakhiran secara berkala,” ucapnya.
“Karena yang namanya desil itu adalah pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan tadi, jadi, kita lihat konteksnya, konteks relatif,” tuturnya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is BPS Ungkap Penyebab DTSEN Tidak Gunakan?
BPS Ungkap Penyebab DTSEN Tidak Gunakan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does BPS Ungkap Penyebab DTSEN Tidak Gunakan matter?
BPS Ungkap Penyebab DTSEN Tidak Gunakan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
