Skip to content
Royal desk
Oktober 15, 2026 JurnalNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

Dari Pontianak hingga Melawi: Di Balik Selimut Asap Karhutla, Para Guru Tetap Mengabdi

Emily Thomas - jurnalnaya.com 4 mins read

Dari Pontianak hingga Melawi, kabut asap kebakaran hutan dan lahan telah menyelimuti Kalimantan Barat selama kurang lebih satu bulan penuh. Jarak pandang

Dari Pontianak hingga Melawi: Di Balik Selimut Asap Karhutla, Para Guru Tetap Mengabdi

Dari Pontianak hingga Melawi: Guru Tetap Mengajar

Jurnalnaya.com – Dari Pontianak hingga Melawi, kabut asap kebakaran hutan dan lahan telah menyelimuti Kalimantan Barat selama kurang lebih satu bulan penuh. Jarak pandang menyusut hingga nyaris nol, indeks kualitas udara merosot tajam, dan rutinitas harian warga terganggu secara luas. Di tengah kondisi itu, para pendidik di jenjang dasar maupun menengah memilih tetap hadir di sekolah—bukan karena tidak ada opsi lain, melainkan karena amanah terhadap hak belajar ribuan siswa tidak dapat ditinggalkan.

Dita: Menembus Asap demi Satu Jam Mengajar

Dita, pengajar di SMPN 7 Pontianak, bukan petugas pemadam. Namun setiap pagi ia harus melintasi lapisan asap pekat yang membungkus jalanan kota. Jalur yang ia andalkan adalah tepian Sungai Kapuas, satu-satunya rute yang masih memungkinkan ia tiba di sekolah ketika visibilitas nyaris hilang.

Sejak awal September 2026, seluruh pembelajaran di sekolahnya beralih ke mode daring. Meski begitu, Dita tetap menginjakkan kaki di lingkungan sekolah untuk mengoperasikan perangkat pengajaran. Ruang guru yang ia tempati cukup terbuka, sehingga partikel asap bebas masuk dan mengendap di udara ruangan.

“Kami sebagai guru masih tetap beraktivitas seperti biasa, melakukan pembelajaran daring dari sekolah.”

Konsekuensi bagi tubuh tidak bisa dihindari. Sekitar dua pekan sebelum wawancara, Dita terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang disertai demam, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan. Beberapa rekan sejawat mengalami keluhan serupa. Ia tetap masuk kerja meski dalam keadaan sakit.

“Dua minggu yang lalu saya sempat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), demam, batuk dan pilek serta sakit tenggorokan, begitu pula dengan beberapa rekan lainnya. Ketika itu pula saya masih harus bekerja dan beraktivitas.”

Dampak kesehatan tidak berhenti pada dirinya. Kedua anak Dita juga menunjukkan gejala gangguan pernapasan akibat paparan asap berkepanjangan. Sebagai ibu, ia mengaku merasa hancur karena tidak mampu menemani anak-anaknya saat mereka membutuhkan perhatian. Namun beban tanggung jawab terhadap puluhan siswa di kelasnya membuatnya tidak memiliki ruang untuk beristirahat.

“Itu adalah hari yg berat dan membekas selama karhutla ini.”

Di luar persoalan kesehatan, kelangkaan air bersih menambah beban. Galon-galon air mineral mulai mengantre panjang di toko-toko kelontong, dan distribusi air minum ke rumah tangga terganggu. Bagi keluarga yang sudah kelelahan secara fisik akibat polusi udara, keterbatasan akses air bersih memperparah tekanan harian.

“Hal ini karena selain efek kabut asap. Juga karena mulai sulit untuk obtain air bersih dan galon-galon mineral mulai antre dan langka.”

Melawi: Krisis yang Lebih Dalam di Ujung Timur

Lebih dari 400 kilometer ke arah timur, Kabupaten Melawi menghadapi situasi yang jauh lebih genting. Maryati, seorang guru sekolah dasar di daerah itu, menjelaskan bahwa titik-titik kebakaran hutan berjarak sangat dekat dengan lokasi sekolahnya. Hutan-hutan di sepanjang jalur yang biasa ia lalui telah terbakar hebat, mengubah lanskap menjadi gundul dan mengancam keselamatan warga sekitar.

“Hutan sepanjang jalan yang sering saya lewati mengalami kebakaran hebat dan sekarang kondisinya sangat memprihatinkan.”

Karhutla di Melawi tidak sekadar mengganggu udara dan kesehatan; ia juga menghantam mata pencaharian masyarakat. Banyak orang tua siswa yang bergantung pada ladang subsisten kehilangan hasil panen karena lahan mereka terbakar. Kehilangan sumber ekonomi di tengah krisis udara menciptakan tekanan berlapis bagi keluarga-keluarga di pedesaan Kalimantan Barat.

“Terkait dengan kondisi keluarga ataupun orang tua siswa yang terdampak karhutla, sangat memprihatinkan. Terkhusus untuk orangtua yang pekerjaannya sehari-hari berladang, ada yang ladangnya terbakar.”

Tantangan pembelajaran jarak jauh di Melawi bersifat lebih struktural. Akses internet yang terbatas, minimnya perangkat digital di rumah tangga pedesaan, serta ketidakpastian pasokan listrik membuat proses belajar-mengajar nyaris lumpuh. Dari Pontianak hingga Melawi, jarak bukan sekadar angka kilometer—ia memisahkan dua realitas krisis yang berbeda kedalaman, namun sama-sama menuntut ketangguhan para guru yang memilih tetap berdiri di depan kelas, meski hanya lewat layar.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Karhutla dan Dunia Pendidikan

Apakah sekolah di Pontianak dan Melawi masih beroperasi normal selama kabut asap? Sebagian besar sekolah beralih ke pembelajaran daring sejak awal September 2026. Namun, guru tetap hadir di lingkungan sekolah untuk mengoperasikan perangkat pengajaran dan memastikan siswa dapat mengakses materi secara daring.

Apa yang harus dilakukan orang tua jika anak mengalami gejala pernapasan akibat asap? Amati gejala seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau demam. Jika keluhan tidak membaik dalam beberapa hari, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Pastikan anak cukup minum air bersih dan hindari aktivitas luar saat indeks kualitas udara berada pada level buruk.

<

Leave a reply