CEO Media Group Soroti 3 Tantangan Adopsi Agentic AI
Perkembangan kecerdasan buatan kini memasuki fase yang lebih jauh dari sekadar membantu pekerjaan komunikasi atau pengolahan informasi. Di berbagai proses
Agentic AI Dorong Perubahan Cara Industri Menjalankan Operasi
Jurnalnaya.com – Perkembangan kecerdasan buatan kini memasuki fase yang lebih jauh dari sekadar membantu pekerjaan komunikasi atau pengolahan informasi. Di berbagai proses industri, teknologi AI mulai dipertimbangkan untuk menangani tugas operasional yang membutuhkan serangkaian langkah, pengambilan keputusan terbatas, serta kemampuan menjalankan instruksi secara mandiri.
Perubahan tersebut menjadi perhatian CEO Media Group Mohammad Mirdal Akib saat membuka forum Techpresso di Kompleks Media Group, Kedoya, Jakarta Barat, Kamis, 10 September 2026. Ia menilai pemanfaatan AI yang semakin luas perlu diimbangi dengan kesiapan yang matang dari dunia usaha, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Kita kini telah memasuki era agentic AI, kecerdasan buatan tidak lagi sekadar alat bantu komunikasi, melainkan teknologi nyata yang mampu mengeksekusi tugas-tugas operasional kompleks secara mandiri,” ujar Mirdal.
Istilah agentic AI merujuk pada pengembangan AI yang dapat membantu menyelesaikan tujuan melalui beberapa tahapan kerja. Dalam praktiknya, teknologi seperti ini tidak hanya menghasilkan jawaban atau konten, tetapi dapat mendukung alur kerja yang telah dirancang, misalnya mengolah masukan, menyusun langkah tindak lanjut, dan membantu pelaksanaan tugas di dalam sistem digital.
Bagi perusahaan, potensi tersebut membuka ruang untuk meningkatkan efisiensi dan mempercepat proses kerja. Namun, penggunaan AI dalam aktivitas yang semakin penting juga membawa tuntutan baru. Ketika teknologi terlibat dalam pengelolaan data, sistem, dan proses operasional, organisasi perlu memastikan bahwa penerapannya tetap terarah, aman, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Tiga Fondasi Kesiapan
Mirdal menekankan bahwa peluang besar dari agentic AI tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan tentang tingkat kesiapan para pengguna teknologi tersebut. Percepatan adopsi tidak cukup hanya bertumpu pada ketersediaan perangkat atau platform AI, melainkan memerlukan fondasi yang kuat dalam regulasi, keamanan digital, dan kemampuan sumber daya manusia.
“Namun di balik peluang besar tersebut, muncul satu pertanyaan yang cukup krusial bagi kita semua. Apakah kita sudah benar-benar siap? Bagi para pemimpin perusahaan dan pengambil kebijakan, kesiapan ini bertumpu pada tiga pilar mendasar,” jelas Mirdal.
Pilar pertama adalah regulasi yang mampu mengikuti inovasi tanpa mengabaikan etika. Aturan yang adaptif dibutuhkan agar pemanfaatan AI memiliki arah yang jelas bagi perusahaan maupun pengguna. Dalam konteks ini, pertimbangan etika penting untuk menjaga penggunaan teknologi tetap selaras dengan kepentingan manusia, organisasi, dan masyarakat.
Pilar kedua ialah ketahanan siber. Makin banyak sistem digital bergantung pada AI, makin besar pula kebutuhan untuk melindungi data serta infrastruktur yang mendukungnya. Keamanan tidak semestinya ditempatkan sebagai tahap terakhir setelah teknologi diterapkan. Sebaliknya, perlindungan sistem perlu menjadi bagian dari perencanaan sejak awal, termasuk dalam menentukan akses, pengelolaan data, dan pengawasan aktivitas digital.
Pilar ketiga menyangkut kesiapan talenta. Pemanfaatan AI membutuhkan tenaga kerja yang mampu memahami peran teknologi baru, bekerja bersamanya, dan menilai hasil yang diberikan secara kritis. Kapasitas manusia tetap menjadi unsur penting, terutama ketika keputusan operasional, keamanan, dan dampak penggunaan teknologi harus dipertimbangkan dengan cermat.
Ketiga hal tersebut saling berkaitan. Regulasi dapat memberikan batas dan kepastian, keamanan siber membantu menjaga kepercayaan terhadap sistem, sedangkan talenta memastikan teknologi digunakan secara tepat. Jika salah satu unsur tertinggal, manfaat AI berisiko tidak optimal atau justru menimbulkan persoalan baru bagi organisasi.
Forum Dialog untuk Ekosistem Digital
Untuk mempertemukan beragam kepentingan tersebut, Medcom.id menginisiasi Techpresso sebagai ruang dialog antara pemerintah, regulator, pelaku industri, dan penyedia solusi keamanan. Forum seperti ini diperlukan karena perkembangan AI tidak hanya menjadi isu teknologi, tetapi juga menyentuh kebijakan, tata kelola bisnis, perlindungan data, serta kesiapan tenaga kerja.
“Untuk menjawab tantangan tersebut semua, Medcom.id menginisiasi forum Techpresso sebagai jembatan dialog. Jembatan dialog yang konkret antara pemerintah, regulator, pelaku industri, serta para penyedia solusi keamanan,” kata Mirdal.
Dialog lintas sektor dapat membantu setiap pihak memahami tantangan dari sudut pandang yang berbeda. Pelaku usaha membutuhkan kepastian dan solusi yang dapat diterapkan dalam operasi sehari-hari. Regulator memerlukan pemahaman atas perubahan teknologi yang berlangsung cepat. Sementara itu, penyedia keamanan memiliki peran penting dalam membantu organisasi membangun perlindungan terhadap risiko digital yang menyertai penggunaan sistem AI.
Di tingkat organisasi, pembahasan tentang AI idealnya tidak hanya berfokus pada kemampuan teknologinya. Pertanyaan yang juga penting mencakup tujuan penggunaan, jenis pekerjaan yang akan dibantu, data apa yang terlibat, serta pihak yang tetap bertanggung jawab atas hasil akhirnya. Pendekatan seperti ini dapat membantu perusahaan menempatkan AI sebagai bagian dari strategi kerja, bukan sekadar tren teknologi.
Mirdal berharap Techpresso dapat menghasilkan lebih dari sekadar pertukaran pandangan mengenai perkembangan teknologi terkini. Kolaborasi yang lahir dari forum tersebut diharapkan memperkuat hubungan antara pemerintah, regulator, industri, dan penyedia solusi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Perjalanan menuju adopsi agentic AI masih memerlukan kesiapan bersama. Peluangnya besar, terutama untuk membantu berbagai proses bisnis menjadi lebih efektif. Namun, keberhasilan penerapannya akan ditentukan oleh kemampuan seluruh ekosistem dalam menyeimbangkan inovasi dengan etika, perlindungan siber, dan pengembangan talenta.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is CEO Media Group Soroti 3 Tantangan?
CEO Media Group Soroti 3 Tantangan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does CEO Media Group Soroti 3 Tantangan matter?
CEO Media Group Soroti 3 Tantangan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
