JurnalNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Basarnas: Belum Ada Tanda Penemuan Jurnalis di Pulau Sertung

Published September 11, 2026 · Updated September 11, 2026 · By Lisa Thomas - jurnalnaya.com

Foto : Lisa Thomas - jurnalnaya.com

Pencarian Lima Jurnalis di Sekitar Anak Krakatau Masih Terkendala Asap dan Zona Bahaya

Jurnalnaya.com – Upaya menemukan lima jurnalis yang putus kontak ketika meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih belum membuahkan petunjuk. Tim pencarian dan pertolongan gabungan telah memantau sejumlah pulau di sekitar kawasan gunung api tersebut, termasuk melalui pengamatan visual dengan teropong, namun belum terlihat tanda keberadaan para pewarta di Pulau Sertung.

Lima jurnalis itu kehilangan komunikasi sejak Senin, 7 September 2026. Mereka diketahui tengah melakukan perjalanan menuju perairan Selat Sunda untuk menjalankan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau. Kawasan ini berada di jalur laut yang menghubungkan beberapa wilayah di sekitar Selat Sunda dan memiliki kondisi alam yang dapat berubah cepat saat aktivitas vulkanik meningkat.

Pulau Sertung Masuk Radius Rawan

Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menjelaskan bahwa pencarian langsung di Pulau Sertung belum dapat dilakukan karena lokasinya berada dalam radius tiga kilometer dari Gunung Anak Krakatau. PVMBG masih menetapkan area tersebut sebagai kawasan rawan, sehingga setiap langkah pencarian harus mempertimbangkan keselamatan tim di lapangan.

“Untuk Pulau Sertung, itu memasuki radius tiga km ya, sebagaimana kita ketahui bersama data dari PVMBG menyatakan bahwa itu masih daerah rawan, tetapi kami akan tetap berupaya bagaimana kita bisa masuk ke situ dari data BMKG, data BNPB, perkiraan tindakan apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa masuk ke situ untuk memastikan,” ujar Amrad dalam keterangannya, Kamis, 10 September 2026.

Pembatasan akses ke zona bahaya membuat operasi tidak hanya bergantung pada kecepatan pencarian, tetapi juga pada evaluasi situasi vulkanik, cuaca, dan kondisi laut. Tim harus memastikan bahwa jalur menuju pulau serta area pendaratan memungkinkan untuk dilalui tanpa menambah risiko bagi personel penyelamat.

Di pulau-pulau lain yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau, unsur SAR bersama nelayan setempat telah melakukan penelusuran. Keterlibatan nelayan menjadi penting karena mereka mengenal karakter perairan setempat, termasuk jalur pelayaran, titik-titik singgah, serta perubahan kondisi laut yang dapat terjadi di kawasan Selat Sunda.

Drone Belum Menembus Kabut Asap

Pencarian dari udara juga dicoba dengan menggunakan drone. KN SAR Tetuka mengerahkan perangkat tersebut untuk memperluas pemantauan, termasuk ke arah Pulau Sangiang. Namun, tebalnya asap di kawasan pencarian membuat hasil pengamatan belum optimal.

“Untuk hari ini, informasi dari rekan-rekan di lapangan yang di sekitar yang menggunakan drone, yaitu KN SAR Tetuka, mencoba hal tersebut dan hasilnya tidak bisa karena kabut asap sangat tebal,” ucap Amrad.

Kabut dan asap dapat membatasi jarak pandang kamera drone maupun pengamatan langsung dari kapal. Dalam operasi pencarian di wilayah perairan dan pulau vulkanik, kondisi tersebut dapat menyulitkan identifikasi objek, jejak aktivitas manusia, atau lokasi yang perlu diperiksa lebih lanjut. Karena itu, pemantauan harus dilakukan berulang kali ketika visibilitas memungkinkan.

Informasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau secara berkala. BMKG dan PVMBG memberikan pembaruan mengenai kondisi yang dapat memengaruhi jalannya operasi. Data tersebut dipakai untuk menentukan waktu yang paling aman bagi tim apabila diperlukan upaya masuk lebih dekat ke Pulau Sertung.

“Jadi, rekan-rekan yang dari BMKG termasuk dari PVMBG itu selalu memberikan informasi, mereka melaporkan per jam perkembangannya, apabila ada urgensi, itu akan menyampaikan ke kami,” tutur Amrad.

Lima Pewarta dalam Perjalanan Liputan

Kelima orang yang dicari terdiri atas pewarta foto Antara Muhammad Bagus Khoirunas, jurnalis Merdeka.com Arie Basuki, fotografer lepas Donal Husni, jurnalis iNews Yudhistira, serta jurnalis Anadolu Daus. Mereka berada dalam perjalanan untuk mendokumentasikan aktivitas erupsi Anak Krakatau ketika komunikasi dengan mereka terputus.

Peliputan bencana dan aktivitas gunung api kerap menuntut jurnalis bekerja dekat dengan lokasi berisiko. Dokumentasi yang mereka hasilkan memiliki peran penting untuk memberi gambaran kepada masyarakat mengenai kondisi di lapangan. Namun, keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama, terutama ketika area peliputan masuk dalam radius bahaya yang ditetapkan otoritas terkait.

Gunung Anak Krakatau berada di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan. Aktivitas gunung api di kawasan laut tidak hanya memerlukan perhatian terhadap potensi erupsi, tetapi juga terhadap dampak lanjutan seperti abu vulkanik, asap, perubahan arah angin, serta kondisi gelombang. Faktor-faktor tersebut turut menentukan pergerakan kapal dan efektivitas pencarian dari udara.

Hingga Kamis, 10 September 2026, belum ada tanda penemuan kelima jurnalis di Pulau Sertung. Tim tetap menyiapkan langkah lanjutan sambil menunggu kondisi yang lebih aman dan informasi terbaru dari lembaga pemantauan. Fokus operasi adalah memastikan seluruh kemungkinan lokasi diperiksa dengan tetap memprioritaskan keselamatan personel pencarian.

Masyarakat yang berada di sekitar Selat Sunda juga perlu mengikuti informasi resmi terkait perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan pembatasan kawasan rawan. Dalam situasi seperti ini, menghindari area berbahaya serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dapat membantu kelancaran operasi dan melindungi keselamatan semua pihak.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Basarnas?

Basarnas is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Basarnas matter?

Basarnas matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.