Gempa M 2,6 Kembali Guncang Kabupaten Bandung
Gempa M 2 6 Kembali Guncang Kabupaten Bandung
Jurnalnaya.com – Gempa M 2 6 Kembali terjadi di wilayah selatan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 17 September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi tersebut berlangsung pada pukul 04.59 WIB dengan kekuatan magnitudo 2,6.
Pusat gempa berada di daratan, sekitar 23 kilometer di selatan Kabupaten Bandung. Informasi awal mengenai lokasi dan kekuatan gempa disampaikan BMKG melalui laman resminya pada Kamis pagi.
“Pusat gempa berada di darat 23 km selatan Kabupaten Bandung,” tulis BMKG dalam informasi resminya.
Bagian dari Rangkaian Gempa di Bandung Selatan
Guncangan Kamis pagi bukan satu-satunya aktivitas seismik yang tercatat di kawasan tersebut. Sejak Rabu, 16 September 2026, wilayah selatan Kabupaten Bandung telah mengalami beberapa kali gempa dengan kekuatan berbeda.
Gempa pertama pada Rabu tercatat terjadi pada pukul 06.21 WIB dengan magnitudo 2,2. Selanjutnya, gempa susulan berkekuatan magnitudo 2,9 terjadi pada pukul 08.11 WIB. Aktivitas gempa kembali tercatat pada pukul 17.14 WIB di hari yang sama.
Gempa sore hari itu memiliki kedalaman 6 kilometer dan tergolong gempa dangkal. Getarannya dirasakan hingga Pangalengan dengan intensitas III MMI. Dengan demikian, Gempa M 2 6 Kembali pada Kamis menjadi lanjutan dari rangkaian guncangan yang berlangsung dalam rentang kurang dari dua hari.
Getaran III MMI Terasa hingga Pangalengan
Skala Modified Mercalli Intensity atau MMI digunakan untuk menggambarkan tingkat getaran yang dirasakan masyarakat di suatu lokasi. Intensitas III MMI menunjukkan getaran dapat dirasakan di dalam rumah oleh sebagian orang.
Pada tingkat tersebut, getaran umumnya mirip dengan sensasi kendaraan berat yang melintas. Benda ringan yang tergantung, seperti lampu atau hiasan, juga dapat bergoyang. Namun, besarnya getaran yang dirasakan tidak selalu sama di setiap wilayah.
Magnitudo menunjukkan energi yang dilepaskan saat gempa, sedangkan MMI menggambarkan dampak getaran di tempat tertentu. Jarak dari pusat gempa, kedalaman sumber gempa, serta kondisi tanah dapat memengaruhi kuat atau lemahnya getaran yang dirasakan warga.
Warga Diminta Tetap Tenang dan Memantau Informasi Resmi
Rangkaian gempa berkekuatan kecil tetap perlu menjadi perhatian, khususnya bagi warga yang tinggal di Kabupaten Bandung bagian selatan dan wilayah sekitar Pangalengan. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Saat guncangan terjadi di dalam bangunan, warga dapat menjauh dari kaca, lemari, atau benda lain yang berpotensi jatuh. Setelah getaran berhenti, periksa kondisi bangunan sebelum kembali beraktivitas, terutama apabila terlihat retakan atau bagian rumah yang tidak stabil.
Warga juga perlu berhati-hati ketika berada di luar ruangan. Hindari dinding retak, tiang, kabel listrik, atau bangunan yang tampak mengalami kerusakan. Pemantauan informasi resmi BMKG penting dilakukan untuk mengetahui pembaruan terkait lokasi, kekuatan, dan perkembangan aktivitas gempa.
Hingga informasi ini disampaikan, pusat Gempa M 2 6 Kembali tercatat berada 23 kilometer di selatan Kabupaten Bandung. Sebelumnya, aktivitas gempa di area tersebut meliputi guncangan magnitudo 2,2, magnitudo 2,9, serta gempa dangkal berkedalaman 6 kilometer yang terasa hingga Pangalengan dengan intensitas III MMI.
FAQ Gempa di Kabupaten Bandung
Apa yang harus dilakukan saat merasakan gempa?
Segera lindungi kepala, menjauh dari benda yang mudah jatuh, dan cari tempat aman. Jika berada di dalam bangunan, tunggu hingga getaran berhenti sebelum keluar dengan hati-hati.
Apakah gempa magnitudo 2,6 dapat terasa?
Gempa magnitudo 2,6 dapat terasa, terutama jika pusat gempanya dangkal dan berada tidak jauh dari permukiman. Tingkat getaran yang dirasakan setiap orang dapat berbeda sesuai lokasi dan kondisi bangunan.
Di mana warga bisa memperoleh informasi gempa yang akurat?
Warga sebaiknya mengikuti pembaruan dari BMKG dan kanal resmi pemerintah setempat. Informasi resmi membantu masyarakat menghindari kabar keliru mengenai kekuatan, lokasi, atau dampak gempa.