JurnalNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Brent Tembus USD102/Barel

Published Oktober 2, 2026 · Updated Oktober 2, 2026 · By Emily Thomas - jurnalnaya.com

Foto : Emily Thomas - jurnalnaya.com

Ketegangan AS-Iran Dorong Minyak Brent Melampaui USD102 per Barel

Jurnalnaya.com – Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Kamis waktu setempat, dipicu kecemasan pasar atas risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah ketika hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Kontrak minyak Brent untuk pengiriman Desember naik 4,6 persen dan berada di USD102,58 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) AS kontrak November menguat 3,1 persen ke USD93,18 per barel.

Pergerakan tersebut mempertegas sensitivitas pasar energi terhadap perkembangan keamanan di kawasan penghasil minyak utama dunia. Jalur distribusi, fasilitas pelabuhan, pipa, serta rute pelayaran menjadi perhatian pelaku pasar karena setiap peningkatan risiko dapat menghambat pasokan ke konsumen global.

Kontrak Brent November, yang berakhir pada Rabu, sebelumnya ditutup pada USD103,50 per barel. Sepanjang September, Brent mencatat kenaikan sekitar 14 persen, atau lonjakan bulanan terbesar sejak Juli. Sementara itu, harga WTI bertambah kurang lebih lima persen selama bulan yang sama.

Penambahan Kekuatan Militer Memperbesar Kekhawatiran Pasar

Sentimen penguatan minyak berkembang setelah muncul informasi mengenai tambahan pengerahan personel militer AS ke Timur Tengah. Wall Street Journal menyebut Washington mengirim kelompok tempur kapal induk ketiga dan kapal tambahan milik Korps Marinir ke wilayah tersebut.

Jumlah personel tambahan berpotensi mencapai 9.000 hingga 10 ribu orang pada akhir November. Di saat bersamaan, Presiden AS Donald Trump disebut masih mempertimbangkan kelanjutan serangan terhadap Iran pada bulan itu. Ketidakpastian mengenai keputusan tersebut membuat pasar memperhitungkan kemungkinan gangguan energi yang lebih luas.

Trump menyatakan pada Kamis bahwa keputusan mengenai Iran belum ditetapkan.

“Mereka akan menandatangani kesepakatan yang sangat adil, atau mereka tidak akan ada lagi,” kata Trump.

Pernyataan itu hadir ketika ketegangan Washington dan Teheran belum mereda. Iran juga disebut mempersiapkan respons yang lebih keras apabila AS kembali melakukan serangan skala besar. Bagi pasar minyak, eskalasi semacam ini bukan hanya persoalan politik, melainkan juga ancaman terhadap kelancaran produksi dan pengiriman minyak mentah.

Ekspor Timur Tengah Belum Sepenuhnya Pulih

Arab Saudi mulai kembali memuat tanker di Yanbu, pelabuhan utama negara itu di Laut Merah, setelah operasi Jalur Pipa Timur-Barat diaktifkan lagi. Jalur tersebut melintasi wilayah Arab Saudi dan memiliki peran penting dalam mendukung arus pengiriman minyak.

Kendati kegiatan ekspor mulai bergerak pulih, volumenya masih belum kembali ke kondisi sebelum konflik. Data Kpler menunjukkan pengiriman minyak dari Timur Tengah selama September masih tertinggal sekitar 3,2 juta barel per hari dibandingkan level Februari.

Selisih volume itu membantu menjelaskan mengapa pasar cepat merespons berita terkait keamanan kawasan. Ketika pasokan yang tersedia telah lebih rendah dari keadaan normal, gangguan tambahan di pelabuhan, pipa, atau jalur laut dapat langsung memperbesar tekanan pada harga.

Perhatian juga tertuju pada Selat Hormuz, salah satu jalur perairan yang sangat penting bagi perdagangan minyak. Pada awal pekan, Trump menolak proposal Teheran yang menawarkan pembukaan kembali selat itu dalam tujuh hari. Sebagai gantinya, Iran meminta penghentian permusuhan, berakhirnya blokade angkatan laut AS, pencabutan sanksi ekonomi, dan pencairan aset Iran.

Setelah itu, Iran menyatakan telah menerima respons AS atas usulan terakhirnya. Namun, belum ada tanda bahwa pertukaran posisi tersebut telah menghasilkan kesepakatan yang mampu meredakan kekhawatiran pasar secara menyeluruh.

Diplomasi Belum Menghasilkan Terobosan

Harapan terhadap jalur diplomatik sempat menguat saat agenda Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York berlangsung. Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan sikap masing-masing melalui pidato di forum tersebut. Pertemuan para perwakilan kedua negara di sela acara juga belum melahirkan titik temu.

Di tengah kebuntuan itu, terdapat sinyal bahwa ruang perundingan belum sepenuhnya tertutup. Pada Kamis, Bloomberg News memuat informasi bahwa Menteri Luar Negeri Iran dalam pembicaraan tertutup memberi isyarat kesiapan memulihkan akses inspektur nuklir. Langkah tersebut dikaitkan dengan kemungkinan pencabutan sanksi terhadap Teheran.

Bagi pelaku pasar, perkembangan diplomatik tetap penting karena kesepakatan dapat mengurangi risiko gangguan pasokan. Sebaliknya, kegagalan dialog atau perluasan konflik berpotensi mempertahankan harga minyak pada level tinggi dalam waktu lebih lama.

Diesel AS Turut Menjadi Sorotan

Bukan hanya minyak mentah yang diawasi pasar energi. Harga diesel di Amerika Serikat juga menjadi isu penting setelah mencapai rekor USD6,5276 per galon pada pekan lalu. Persediaan diesel AS masih rendah, sehingga perubahan kebijakan ekspor dapat berdampak besar terhadap harga bahan bakar olahan.

Trump pada Rabu menyampaikan bahwa pemerintahannya masih membahas kemungkinan pembatasan ekspor diesel AS. Sebelumnya, Gedung Putih membantah kabar tentang rencana pelarangan ekspor diesel secara menyeluruh selama 90 hari.

Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan kepada Fox News pada Kamis bahwa Eropa diyakini dapat membantu menurunkan harga bahan bakar olahan dengan mengurangi cadangan darurat diesel. Pernyataan ini menyoroti eratnya hubungan antara kebijakan energi domestik dan keseimbangan pasokan lintas negara.

Walt Chancellor memandang persoalan yang dihadapi AS tidak dapat dipersempit hanya pada diesel, produk olahan, atau bahkan minyak mentah.

“Masalah inti yang dihadapi AS bukanlah masalah diesel. Bukan pula masalah produk olahan. Bahkan mungkin bukan masalah minyak bumi. Ini adalah masalah energi global,” kata Chancellor.

Ia menekankan bahwa keterhubungan AS dengan pasar internasional terlihat dari keluar-masuknya minyak mentah ke kilang dan perdagangan produk olahan. Karena itu, setiap kebijakan energi AS dapat membawa konsekuensi yang melampaui pasar domestik.

“Dalam hal ini, dorongan AS yang tampaknya memiliki dimensi global dapat dipahami,” tambah Chancellor.

Kenaikan Brent dan WTI kali ini memperlihatkan bahwa pasar masih bergerak di bawah bayang-bayang risiko geopolitik, keterbatasan pasokan regional, serta ketidakpastian kebijakan energi. Perundingan AS-Iran, aktivitas ekspor Timur Tengah, dan keputusan Washington mengenai diesel akan menjadi sejumlah faktor yang terus diperhatikan dalam beberapa pekan mendatang.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Harga Minyak Dunia Naik Lagi Brent?

Harga Minyak Dunia Naik Lagi Brent is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Harga Minyak Dunia Naik Lagi Brent matter?

Harga Minyak Dunia Naik Lagi Brent matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.