Kualitas Udara Belum Baik Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, Kemenkes Imbau Gunakan Masker
Abu Vulkanik Anak Krakatau Masih Pengaruhi Kualitas Udara, Masyarakat Diimbau Bermasker
Jurnalnaya.com – Kementerian Kesehatan masih memantau dampak abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah. Meski operasional penerbangan telah kembali berjalan dan bandara telah dibuka, partikel halus di udara dinilai masih berisiko bagi kesehatan, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyampaikan bahwa pengukuran partikulat menunjukkan kondisi udara belum sepenuhnya pulih. Masyarakat diminta tetap menggunakan masker ketika harus berada di area terbuka, khususnya di lokasi yang konsentrasi partikelnya masih tinggi.
“Walaupun bandara sekarang sudah dibuka, ternyata masalah kesehatan dari pengukuran particulate counter ini masih terus berdampak untuk kesehatan,” kata Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, Jumat, 11 September 2026.
PM2,5 di Area Bandara Soekarno-Hatta Melebihi Ambang Aman
Pemantauan pada Rabu, 9 September 2026, dilakukan di beberapa titik di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Hasil pengukuran memperlihatkan kadar PM2,5 pada sejumlah area luar ruangan masih melampaui batas yang aman bagi kesehatan.
Di Terminal Damri Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, konsentrasi PM2,5 tercatat mencapai 63 µg/m³. Angka tersebut jauh lebih tinggi daripada batas aman PM2,5 yang berada pada 25 µg/m³. Partikel PM2,5 merupakan materi berukuran sangat kecil yang dapat melayang di udara dan masuk ke sistem pernapasan saat terhirup.
Kemenkes menggunakan particulate counter untuk memeriksa konsentrasi partikulat tersebut. Pemeriksaan tidak hanya menjadi perhatian bagi aktivitas transportasi udara, tetapi juga penting untuk melihat dampak paparan abu vulkanik dari sisi kesehatan masyarakat.
“Mungkin kalau untuk otoritas bandara itu menggunakan paper test untuk keamanan penerbangan, tapi ternyata particulate matter untuk kesehatannya masih tinggi,” ujar Wamenkes.
Dante menjelaskan bahwa ukuran partikel menjadi salah satu aspek penting dalam penilaian risiko. Partikel yang lebih besar dapat mulai berkurang lebih dahulu, sementara partikel berukuran 2,5 mikrometer masih dapat bertahan dalam konsentrasi tinggi di udara.
“Untuk kesehatan, itu kita pakai yang 2,5. Kalau nanti partikel yang lebih besar kita anggap sudah mulai menurun, tapi 2,5-nya masih ada, masih tinggi,” ujar Dante.
Pemantauan Dilakukan Berkala di Bandara dan Wilayah Sekitar
Pada Selasa, 8 September 2026, sejumlah titik pemantauan di Bandara Soekarno-Hatta serta kawasan sekitarnya juga menunjukkan kadar PM2,5 dan PM10 yang melebihi batas aman. Kegiatan ini dijalankan secara berkala oleh Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan dan Balai Kekarantinaan Kesehatan menggunakan Air Quality Detector atau Particulate Counter.
PM10 mengacu pada partikel yang ukurannya lebih besar dibanding PM2,5. Namun, keberadaan kedua jenis partikulat itu tetap perlu diperhatikan karena abu vulkanik dapat mengandung materi dengan beragam ukuran. Paparan partikel halus menjadi perhatian khusus karena dapat masuk lebih dalam ke paru-paru.
Kondisi tersebut membuat pembukaan kembali bandara tidak serta-merta berarti kualitas udara sudah ideal untuk semua orang. Kelancaran penerbangan dan keselamatan kesehatan masyarakat merupakan dua hal yang dipantau melalui pertimbangan yang berbeda.
Kasus ISPA Tercatat di Empat Provinsi
Dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik juga terlihat dari catatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA. Hingga Minggu, 6 September 2026, Kemenkes mencatat total 16.759 kasus ISPA di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kasus tersebut tersebar di empat provinsi dan 23 kabupaten/kota. Dari jumlah kumulatif itu, 3.771 kasus terjadi pada anak usia 0–5 tahun. Sementara itu, sebanyak 12.988 kasus dialami kelompok berusia lebih dari 5 tahun.
Pemantauan Kemenkes menunjukkan angka kejadian ISPA pada 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025. Temuan ini menjadi alasan bagi masyarakat untuk lebih peka terhadap keluhan pernapasan, terutama setelah berada di lingkungan dengan udara yang mengandung banyak partikulat.
Gejala gangguan pernapasan perlu diperhatikan, termasuk keluhan yang muncul pada anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu. Kelompok-kelompok ini dinilai lebih rentan ketika kualitas udara belum membaik.
Kurangi Aktivitas Luar Ruangan Saat Udara Belum Pulih
Kemenkes mengingatkan warga agar membatasi kegiatan di luar rumah apabila kualitas udara masih belum baik. Bila aktivitas di luar ruangan tidak dapat dihindari, penggunaan masker menjadi langkah perlindungan yang dianjurkan, terutama di wilayah dengan kadar partikulat tinggi.
Imbauan ini penting bagi masyarakat yang banyak melakukan perjalanan, bekerja di area terbuka, atau harus beraktivitas di sekitar lokasi yang terdampak sebaran abu. Mengurangi waktu paparan dapat membantu menekan risiko menghirup partikel halus secara berlebihan.
Lansia, anak-anak, serta warga dengan penyakit tertentu diminta memberi perhatian lebih terhadap kondisi tubuh saat kualitas udara menurun. Pengawasan terhadap kualitas udara dan perkembangan dampak kesehatan akan terus dilakukan Kemenkes sebagai bagian dari perlindungan masyarakat setelah erupsi Gunung Anak Krakatau.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kualitas Udara Belum Baik Imbas Abu Vulkanik?Kualitas Udara Belum Baik Imbas Abu Vulkanik is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kualitas Udara Belum Baik Imbas Abu Vulkanik matter?Kualitas Udara Belum Baik Imbas Abu Vulkanik matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.