JurnalNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Udara Jakarta Terburuk Keenam di Dunia pada Kamis Pagi

Published Agustus 13, 2026 · Updated Agustus 13, 2026 · By Karen Johnson - jurnalnaya.com

Foto : Karen Johnson - jurnalnaya.com

Kualitas Udara Jakarta Terburuk Keenam di Dunia: Data dan Dampaknya

Jurnalnaya.com – Pada Kamis pagi, ibu kota Indonesia kembali menjadi sorotan dunia. Udara Jakarta Terburuk Keenam di Dunia - pernyataan ini muncul setelah platform pemantauan kualitas udara IQAir merilis data terbaru. Tepatnya pada pukul 06.00 WIB, Jakarta mencatatkan nilai indeks kualitas udara sebesar 156. Angka ini menempatkan Jakarta dalam kategori tidak sehat bagi kesehatan masyarakat. Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius bagi warga Jakarta yang beraktivitas di luar ruangan.

Warga yang berada di luar ruangan sangat disarankan untuk menggunakan masker. Partikel berbahaya dalam udara Jakarta dapat mengganggu sistem pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan. Kondisi ini juga berdampak pada produktivitas kerja dan aktivitas sehari-hari masyarakat.

Perbandingan dengan Kota-Kota Lain di Dunia

Menurut data IQAir, posisi Jakarta sebagai kota dengan udara terburuk keenam di dunia menunjukkan bahwa masalah polusi udara masih menjadi tantangan besar. Uganda menduduki posisi pertama dengan indeks kualitas udara mencapai angka 209. Posisi kedua ditempati oleh Kuching dari Malaysia dengan nilai 176, sementara Lahore di Pakistan berada di urutan ketiga dengan angka 173.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Jakarta masih memiliki ruang untuk perbaikan. Meskipun tidak berada di posisi teratas, peringkat keenam ini cukup signifikan mengingat Jakarta adalah salah satu kota metropolitan terbesar di dunia. Jumlah kendaraan bermotor yang tinggi menjadi salah satu faktor utama penyebab penurunan kualitas udara.

Strategi Pemprov DKI Jakarta Mengatasi Polusi

Untuk mengatasi masalah polusi udara, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengimplementasikan tiga strategi utama. Strategi pertama adalah memperluas jaringan layanan bus Transjabodetabek. Tujuannya jelas, yaitu menekan penggunaan kendaraan pribadi yang menjadi penyumbang emisi terbesar. Rute-rute yang telah dikembangkan meliputi jalur Blok M menuju Alam Sutera, Blok M ke PIK 2, serta rencana pembukaan rute baru dari Blok M ke Bandara Soekarno Hatta.

Kondisi konektivitas transportasi di Jakarta saat ini telah mencapai 92 persen. Pencapaian ini menempatkan ibu kota pada posisi ke-17 secara global dan peringkat kedua di kawasan ASEAN, hanya tertinggal dari Singapura. Peningkatan konektivitas ini diharapkan dapat mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya secara signifikan.

Sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar emisi gas buang di Jakarta, yakni sebesar 50 persen. Menanggapi hal ini, Gubernur Pramono Anwar menetapkan target operasional 10.000 bus listrik Transjakarta pada tahun 2030. Ia menjelaskan bahwa pencapaian target tersebut akan memberikan dampak signifikan terhadap penurunan emisi.

"Kalau itu bisa dilakukan, secara signifikan akan mengurangi kontribusi terhadap emisi itu," ujar Pramono.

"Kalau itu bisa dilakukan, maka kontribusi yang signifikan akan mengurangi atau menurunkan kontribusi emisi yang ada di Jakarta," tambah Pramono.

Percepatan Fasilitas Pengolahan Sampah

Selain transportasi, pengelolaan sampah juga menjadi fokus utama Pemprov DKI. Pemerintah provinsi mempercepat pembangunan fasilitas Intermediate Treatment Facility (ITF) di empat lokasi strategis, yaitu Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat. Seluruh proyek ini ditargetkan dapat beroperasi pada pertengahan tahun berjalan.

Fasilitas ITF ini dirancang untuk mengolah sampah secara lebih efisien sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir. Dengan adanya fasilitas ini, diharapkan volume sampah yang mencapai TPA dapat berkurang secara signifikan. Pengurangan volume sampah juga berkontribusi positif terhadap penurunan emisi gas metana yang dihasilkan dari pembusukan sampah.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Kualitas Udara Jakarta

Berapa nilai indeks kualitas udara Jakarta pada Kamis pagi? Nilai indeks kualitas udara Jakarta pada Kamis pagi tercatat sebesar 156 menurut data IQAir.

Apa kategori kualitas udara dengan nilai 156? Nilai 156 menempatkan Jakarta dalam kategori tidak sehat bagi kesehatan masyarakat.

Berapa target jumlah bus listrik Transjakarta pada 2030? Gubernur Pramono Anwar menetapkan target operasional 10.000 bus listrik Transjakarta pada tahun 2030.

Di mana saja lokasi pembangunan fasilitas ITF? Fasilitas ITF dibangun di empat lokasi, yaitu Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.

Berapa persen kontribusi sektor transportasi terhadap emisi di Jakarta? Sektor transportasi menyumbang 50 persen dari total emisi gas buang di Jakarta.

Related Reading