Skip to content
Royal desk
Agustus 28, 2026 JurnalNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

Jelang Pemilu, Partai Netanyahu Label 4 Tokoh Sebagai Musuh Israel

Emily Thomas - jurnalnaya.com 4 mins read

Papan reklame raksasa yang terpasang di jantung Tel Aviv kini menjadi pusat perhatian publik. Di atasnya terpampang empat potret tokoh internasional, disertai

Jelang Pemilu, Partai Netanyahu Label 4 Tokoh Sebagai Musuh Israel

Kampanye Likud: Empat Wajah di Baliho “Musuh Israel” Jelang Pemilu 27 Oktober 2026

Jurnalnaya.com – Papan reklame raksasa yang terpasang di jantung Tel Aviv kini menjadi pusat perhatian publik. Di atasnya terpampang empat potret tokoh internasional, disertai logo Partai Likud dan kalimat provokatif yang ditujukan langsung kepada pemilih Israel.

“Mereka ingin Netanyahu kalah … Jangan biarkan mereka menang.”

Empat figur yang ditampilkan dalam baliho tersebut adalah Wali Kota New York Zohran Mamdani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Pemimpin Agung Iran Mojtaba Khamenei, dan Ketua Hizbullah Naim Qassem. Langkah ini merupakan bagian dari strategi kampanye yang dirancang untuk menggalang dukungan pemilih menjelang pemungutan suara legislatif pada 27 Oktober 2026.

Konteks Politik: Knesset Dibubarkan, Koalisi Terancam

Parlemen Israel (Knesset) resmi dibubarkan pada Juli lalu, membuka jalan menuju pemilu baru. Benjamin Netanyahu dan kubu sayap kanan Likud kini memasuki fase kampanye penuh untuk mempertahankan dominasi koalisi di pemerintahan. Ancaman terbesar bagi posisi perdana menteri datang dari rival-rival internal seperti Naftali Bennett dan Yair Lapid, yang siap merebut kendali jika peta koalisi bergeser.

Dalam upaya menjaga status quo politik, Likud mengadopsi pendekatan kampanye yang agresif—termasuk pemasangan baliho bernuansa konfrontatif yang membingkai lawan-lawan geopolitik Israel sebagai ancaman eksistensial bagi negara Yahudi.

Profil Empat Tokoh yang Dilebeli “Musuh”

Mojtaba Khamenei — Pemimpin Agung Iran

Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, kini memegang jabatan tertinggi di Republik Islam Iran. Ayahnya tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat–Israel pada 28 Februari 2026, peristiwa yang sekaligus menewaskan istri, saudari, keponakan, dan saudara ipar sang ayatollah. Serangan itu memicu konflik terbuka antara Teheran dan Tel Aviv yang hingga kini belum mereda.

Kehadiran Mojtaba di ruang publik masih menjadi misteri sejak perang pecah. Sejumlah pihak, termasuk Presiden AS Donald Trump, meyakini ia masih hidup meski dalam kondisi kritis. Pada Juli lalu, ia mengeluarkan pernyataan tertulis bernada dendam:

“Kami berjanji akan membalaskan darah pemimpin yang gugur serta seluruh martir dari kedua perang ini kepada para pembunuh yang kejam dan ternoda.”

Dengan kedekatan historisnya terhadap Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mojtaba menerapkan garis keras menghadapi agresi AS–Israel, termasuk mempertahankan penutupan Selat Hormuz dan klaim kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut.

Ketegangan Iran–Israel berakar jauh ke belakang, sejak Revolusi 1979 yang menggulingkan monarki Shah Pahlevi—pemerintahan yang pada masanya menjalin hubungan dekat dengan Tel Aviv. Sejak perang Gaza meletus, Teheran berulang kali menuduh Israel melakukan genosida dan kejahatan kemanusiaan di Palestina. Sebaliknya, Tel Aviv menuding Teheran mendanai serta menopang jaringan kelompok bersenjata yang bermusuhan dengan Israel: Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, Islamic Resistance di Irak, dan Houthi di Yaman.

Israel juga menuding Iran sebagai aktor di balik serangan Hamas 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.195 warga Israel dan menyandera 251 orang. Peristiwa itu menjadi pemicu perang Gaza yang telah menelan lebih dari 73.000 korban jiwa di kalangan warga Palestina.

Recep Tayyip Erdogan — Presiden Turki

Erdogan memimpin Turki sebagai presiden sejak 2014, setelah sebelumnya menjabat perdana menteri selama 11 tahun (2003–2014). Melalui Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), ia menjadi figur paling dominan dalam lanskap politik Turki selama lebih dari dua dekade.

Berbeda dengan Iran, Ankara dan Tel Aviv telah menjalin hubungan diplomatik formal sejak 1949. Namun, ikatan itu merosot tajam setelah eskalasi perang Gaza pada Oktober 2023. Pada Mei 2024, pemerintah Turki menghentikan seluruh aktivitas ekspor dan impor dengan Israel. Ankara juga kerap menuduh Tel Aviv melakukan genosida di Gaza, sementara Israel menuduh Turki memberikan dukungan politik dan logistik kepada Hamas.

Dalam pernyataan yang diucapkan pada Desember 2023, Erdogan menyamakan tindakan Netanyahu dengan kekejaman Nazi:

“Mereka (warga Israel) mengecam Hitler. Lantas apa bedanya kalian dengan Hitler? Tindakan mereka membuat kita teringat pada Hitler. Apakah apa yang dilakukan Netanyahu ini lebih ringan daripada yang dilakukan Hitler? Tentu tidak.”

Dalam kerangka kebijakan luar negerinya, Israel kerap menerapkan Doktrin Periferi (Periphery Doctrine)—sebuah strategi geopolitik yang menempatkan negara-negara non-Yahudi di kawasan sebagai sekutu untuk mengisolasi ancaman dari perbatasan Arab. Doktrin inilah yang secara historis membentuk dinamika hubungan Tel Aviv dengan Ankara dan Teheran, dua negara yang kini tampil di baliho kampanye Likud sebagai simbol ancaman.

Frequently Asked Questions

What is Jelang Pemilu Partai Netanyahu Label 4 Tokoh?

Jelang Pemilu Partai Netanyahu Label 4 Tokoh is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Jelang Pemilu Partai Netanyahu Label 4 Tokoh matter?

Jelang Pemilu Partai Netanyahu Label 4 Tokoh matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a reply