Skip to content
Royal desk
Oktober 15, 2026 JurnalNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

5 Jurnalis Hilang di Perairan Gunung Anak Krakatau, Pemilik Pastikan Kapal Layak Berlayar

Christopher Williams - jurnalnaya.com 4 mins read

Operasi pencarian speedboat yang membawa lima jurnalis hilang di perairan Gunung Anak Krakatau diperluas pada Rabu pagi, 9 September 2026. Setelah satu hari

5 Jurnalis Hilang di Perairan Gunung Anak Krakatau, Pemilik Pastikan Kapal Layak Berlayar

5 Jurnalis Hilang di Perairan Krakatau

Jurnalnaya.com – Operasi pencarian speedboat yang membawa lima jurnalis hilang di perairan Gunung Anak Krakatau diperluas pada Rabu pagi, 9 September 2026. Setelah satu hari penuh tanpa hasil, tim penyelamat di Banten memindahkan armada ke sektor-sektor baru. Titik terakhir deteksi kapal tercatat pada koordinat 6°14’40.52″S 105°40’49.48″T, kawasan yang berjarak lebih dari tiga kilometer dari kawah aktif gunung berapi paling dinamis di Indonesia tersebut.

Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, menyatakan bahwa hingga pukul 18.15 WIB Selasa, 8 September, pencarian telah menyapu wilayah Pulau Krakatau dan Pulau Panjang tanpa menemukan jejak kapal maupun penumpang. Sebagai langkah awal, rute pelayaran dari Dermaga Pagedongan, Carita, menuju kawasan gunung anak dipetakan terlebih dahulu sebelum operasi diperluas ke sektor lain.

“Untuk rencana besok tetap nanti kita memperluas area pencarian karena hari ini kita mempelajari rute dari Carita sampai dengan Anak Gunung Krakatau. Seperti itu,” ujar Al Amrad.

Kapal Negara SAR Tatuka beserta Rigid Inflatable Boat (RIB) Banten, lengkap dengan peralatan penyelamatan air, medis, dan komunikasi, dikerahkan untuk operasi lanjutan. Polairud Polda Banten turut berkoordinasi di lapangan.

Pemilik Kapal: Dokumen Lengkap, Kapasitas Sesuai

Sandi Wiasa, pemilik speedboat yang mengangkut rombongan peliputan erupsi, memastikan kapal dalam kondisi laik berlayar saat meninggalkan Dermaga Pagedongan pada Senin, 7 September 2026, sekitar pukul 14.00 WIB. Delapan orang berada di atas kapal, jumlah yang masih dalam batas kapasitas yang diizinkan.

“Kapal yang dipergunakan adalah kapal saya, itu berangkat kemarin sekitar jam 14.00 WIB lebih dari Dermaga Pegedongan,” kata Sandi dalam keterangan visual yang dipantau di Jakarta Selasa malam, 8 September 2026.

Sandi menegaskan seluruh dokumen perizinan kapal tersedia dan setiap penumpang dilengkapi jaket pelampung. Kondisi perairan saat keberangkatan disebutnya normal. Mengenai perangkat pelacak, ia mengakui kapal membawa GPS portabel tetapi tidak dapat memastikan apakah perangkat itu masih berfungsi untuk melacak posisi terakhir.

“Masih layak. Kapal layak untuk jalan,” tegasnya. “Untuk kelengkapan, untuk perizinan kita ada, surat-surat kapal kita ada, terus life jacket ada, Pak.”

Kronologi Hilang Kontak dan Respons Awal

Komunikasi terakhir antara kapal dan pihak di darat tercatat pukul 14.42 WIB, ketika seorang penumpang mengirim data lokasi kepada rekan jurnalis di Lampung. Empat belas menit kemudian, pukul 15.04 WIB, sinyal terputang total. Kabar bahwa kapal tak dapat dihubungi sampai ke telinga Sandi melalui Kapolsek Carita sekitar pukul 13.00 WIB, bukan langsung dari nakhoda.

Setelah menerima informasi itu, Sandi segera menghubungi kerabat di wilayah Pulau Sebesi, Lampung, dan berkoordinasi dengan Basarnas. Nelayan setempat turut dilibatkan dalam upaya pencarian awal.

“Ya, saya sudah menghubungi beberapa saudara-saudara kita yang ada di wilayah Sebesi, Lampung. Alhamdulillah sekarang juga sedang berusaha untuk membantu pencarian dengan nelayan-nelayannya,” kata Sandi.

Sebelum sinyal hilang, kapal sempat mengirim foto kondisi Gunung Anak Krakatau yang diambil sekitar empat jam setelah keberangkatan. Sandi mengonfirmasi posisi kapal saat foto diabadikan berada lebih dari tiga kilometer dari kawah dan seorang pemandu lokal masih mendampingi rombongan.

“Masih ada dengan guide-nya, Pak,” ujarnya.

Identitas Tujuh Penumpang dalam Pencarian

Data sementara Basarnas mencatat tujuh orang dalam pencarian (DP). Di antara mereka teridentifikasi pewarta foto LKBN ANTARA M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki dari Jurnalis Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal berstatus pewarta lepas. Dua nama lainnya masih dalam proses pendataan oleh pihak berwenang.

Konteks Perairan dan Tantangan Medan

Perairan di sekitar Gunung Anak Krakatau dikenal memiliki arus berubah-ubah, kedalaman bervariasi, serta cuaca yang dapat berubah drastis dalam hitungan menit. Gunung Anak Krakatau sendiri merupakan produk erupsi bawah laut yang pertama kali muncul pada 1927 dan telah beberapa kali mengalami pertumbuhan serta erupsi kembali, termasuk letusan besar Desember 2018 yang memicu tsunami di Selat Sunda. Aktivitas vulkanik intens membuat kawasan ini menjadi magnet bagi media dan peneliti, namun sekaligus meningkatkan risiko pelayaran di sekitarnya.

FAQ: Informasi Praktis

Di mana area pencarian saat ini difokuskan? Tim SAR telah menyapu wilayah Pulau Krakatau dan Pulau Panjang pada Selasa, 8 September. Pada Rabu, 9 September, operasi diperluas ke sektor-sektor lain di sekitar koordinat terakhir deteksi kapal, berjarak lebih dari tiga kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau.

Apakah kapal memiliki izin dan perlengkapan keselamatan? Pemilik kapal, Sandi Wiasa, menyatakan seluruh dokumen perizinan tersedia, kapasitas penumpang sesuai batas, dan setiap orang di atas kapal dilengkapi jaket pelampung. Kapal juga membawa GPS portabel, meski status fungsinya saat hilang kontak belum dapat dipastikan.

Bagaimana jalur komunikasi terakhir sebelum sinyal hilang? Penumpang terakhir mengirim data lokasi pukul 14.42 WIB kepada rekan jurnalis di Lampung. Sinyal terputang total pukul 15.04 WIB. Informasi awal tentang hilangnya kontak sampai ke pemilik kapal melalui Kapolsek Carita sekitar pukul 13.00 WIB.

Siapa yang terlibat dalam operasi pencarian? Kantor SAR Banten mengerahkan Kapal Negara SAR Tatuka dan RIB Banten. Polairud Polda Banten berkoordinasi di lapangan. Nelayan lokal di Pulau Sebesi, Lampung, turut membantu pencarian awal atas permintaan pemilik kapal.

Leave a reply