Skip to content
Royal desk
Agustus 5, 2026 JurnalNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

BMKG: Hari Tanpa Hujan di Aceh Diprakirakan hingga Akhir Juli 2026

Sandra Taylor - jurnalnaya.com 2 mins read

BMKG - Banda Aceh — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Aceh menyampaikan bahwa fenomena hari tanpa hujan di

BMKG: Hari Tanpa Hujan di Aceh Diprakirakan hingga Akhir Juli 2026

BMKG: Kondisi Kering di Aceh Diprediksi Berlanjut Sampai Akhir Juli 2026

Jurnalnaya.com – BMKG – Banda Aceh — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Aceh menyampaikan bahwa fenomena hari tanpa hujan di kawasan Aceh diperkirakan akan berlangsung hingga tanggal 31 Juli 2026. Prakiraan ini didasarkan pada data curah hujan dasarian III yang menunjukkan penurunan sebesar 31 persen dari ambang batas normal 50 milimeter.

“Masih ada sekitar 31 persen curah hujan di bawah 50 mm (rendah) yang diindikasikan akan berlanjut tanpa hujan hingga akhir bulan,” kata Analis Stasiun Klimatologi BMKG Aceh, Harisa Bilhaqqi Qalbi, di Banda Aceh, Kamis, 23 Juli 2026, melansir Antara.

Menurut Harisa, akumulasi curah hujan yang minim pada periode sebelumnya, yaitu dasarian II Juli, telah menciptakan prakondisi kering. Kondisi ini meningkatkan kerentanan ekosistem terhadap kekeringan meteorologis yang berpotensi terjadi.

Wilayah yang Terdampak

Curah hujan rendah dengan kisaran 0 hingga 50 milimeter per dasarian memiliki probabilitas 31 persen untuk melanda beberapa wilayah. Daerah-daerah tersebut meliputi Sabang, Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, bagian utara Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, bagian utara Aceh Timur, Bener Meriah, serta Aceh Tengah.

Secara lebih rinci, prediksi curah hujan di bawah 20 milimeter berpeluang 60 hingga 70 persen terjadi di Kota Banda Aceh dan sebagian kecil Aceh Besar. Sebaliknya, curah hujan di atas 50 milimeter berpotensi mengguyur Aceh Timur bagian selatan, Langsa, Aceh Tamiang, Gayo Lues, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan Aceh Singkil. Khusus untuk Simeulue, peluangnya lebih dari 70 persen.

“Secara keseluruhan, Aceh sedang menghadapi tantangan defisit curah hujan yang terpusat di wilayah utara dan tengah, dan diprediksi masih akan terus berlanjut,” jelas Harisa.

Puncak Musim Kemarau

Harisa menegaskan bahwa puncak musim kemarau di Aceh telah diprediksi jauh hari sebelumnya. Mayoritas wilayah mengalami puncaknya pada bulan Juli, tepatnya di enam zona musim. Sementara itu, satu zona musim lainnya memiliki puncak yang jatuh pada bulan Agustus mendatang.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, BMKG mengimbau para pemangku kebijakan agar segera melakukan mitigasi kekeringan. Langkah-langkah yang disarankan meliputi penerapan sistem peringatan dini, penghematan sumber daya air, serta perlindungan sektor pertanian.

“Perlindungan sektor pertanian mutlak dan segera diperlukan untuk wilayah pesisir utara. Sedangkan pesisir selatan relatif aman karena masih menerima pasokan curah hujan yang memadai,” tutup Harisa.

Leave a reply