Skip to content
Royal desk
Juni 19, 2026 JurnalNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

Terjadi 703 Gempa Susulan Pascagempa M6,7 di Sulteng

Lisa Thomas 3 mins read

g Terjadi 703 Gempa Susulan Pascagempa M6 7 - Sejak gempa utama berkekuatan M6,7 mengguncang Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Selasa, 16 Juni 2026, getaran

Terjadi 703 Gempa Susulan Pascagempa M6,7 di Sulteng

Terjadi 703 Gempa Susulan Pascagempa M6,7 di Sulteng

Terjadi 703 Gempa Susulan Pascagempa M6 7 – Sejak gempa utama berkekuatan M6,7 mengguncang Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Selasa, 16 Juni 2026, getaran gempa susulan terus menghiasi sejumlah wilayah. Hingga Kamis, 18 Juni 2026, sebanyak 703 episod gempa susulan telah tercatat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Gempa-gempa ini memiliki variasi magnitudo, mulai dari yang terkecil sekitar M1,3 hingga yang terbesar mencapai M5,2. Meski sebagian besar tidak berdampak signifikan, 25 dari gempa susulan tersebut masih dirasakan oleh warga sekitar, menambah kecemasan terhadap potensi kerusakan lebih lanjut.

“Telah terjadi 703 kali gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 5,2 dan terkecil 1,3. Sebanyak 25 gempa susulan dilaporkan masih dirasakan masyarakat,” ujar Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, dalam keterangan resmi pada Kamis, 18 Juni 2026.

Korban Meninggal dan Luka

Dalam situasi darurat, BNPB terus memantau kondisi korban yang terkena dampak. Sampai saat ini, 3 korban jiwa telah terkonfirmasi, dengan 17 orang mengalami luka berat dan 91 orang luka ringan. Total 2.109 kepala keluarga atau sekitar 6.412 jiwa terdampak oleh bencana ini. BNPB mengungkapkan bahwa laporan-laporan terus berdatangan, dengan 12 korban tambahan masih dalam proses pendataan. Warga terutama di daerah paling terkena dampak mengalami kesulitan mengakses layanan kesehatan dan tempat pengungsian.

Menurut laporan dari BPBD Sulteng, korban meninggal terdistribusi di beberapa titik. Tiga korban jiwa berada di Desa Ampera, Kecamatan Palolo, serta Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki. Dua korban lainnya berada di daerah terpencil, dengan kondisi yang lebih sulit diakses. BNPB memastikan bahwa data korban akurat dan diperbarui secara berkala. Selain itu, korban luka juga terbagi dalam beberapa kategori, termasuk luka parah dan luka ringan, yang memerlukan penanganan yang berbeda.

Wilayah Terparah

Kabupaten Sigi menjadi salah satu daerah yang paling parah terkena gempa susulan. Di sini, kerusakan infrastruktur dan kerusakan fisik pada rumah warga mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Daerah terpencil seperti Desa Ampera dan Desa Kamarora A mengalami kerusakan lebih besar, dengan beberapa rumah runtuh dan jalan berlubang. Selain itu, wilayah seperti Kecamatan Palolo dan Nokilalaki juga menjadi fokus pemantauan, karena tingkat guncangan yang lebih intens.

Kabupaten Poso, yang berbatasan dengan Sulteng, juga melaporkan kerusakan serupa. Dalam laporan BPBD Kabupaten Poso, sejumlah rumah dan bangunan umum rusak, dengan dampak yang terus berkembang. Wilayah ini menjadi kawasan paling rentan akibat letusan aktif dari Gunung Api Tambora, yang berada di sekitar daerah tersebut. Pemukiman di lereng gunung menjadi sasaran utama guncangan susulan, karena kerentanan geologis yang sudah lama diprediksi oleh ahli seismologi.

Kerusakan Infrastruktur

Terlepas dari jumlah korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur. Sebanyak 1.652 unit rumah rusak, dengan 1.472 di antaranya dalam kondisi ringan dan 111 dalam tingkat sedang. Kerusakan yang lebih parah terjadi pada 69 unit rumah, yang memerlukan rehabilitasi lebih lanjut. Fasilitas umum seperti 42 rumah ibadah, 8 gedung perkantoran (termasuk Kantor Bupati Sigi dan BAPPERINDA), 13 bangunan sekolah, 2 rumah adat, serta 8 jaringan air bersih juga mengalami gangguan.

Dampak gempa terhadap jaringan air bersih terutama di wilayah terpencil menjadi masalah besar, karena memengaruhi akses ke kebutuhan pokok. Di sisi lain, kerusakan pada rumah ibadah dan bangunan sekolah menyebabkan gangguan layanan pendidikan dan ibadah, yang berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat. BNPB sedang melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk menyelesaikan masalah ini secepat mungkin, termasuk distribusi bantuan logistik dan bantuan darurat.

Upaya Penanggulangan

Setelah gempa utama dan gempa susulan, tim penanggulangan bencana dari BNPB serta organisasi kemanusiaan terus bergerak. Pasukan penyelamatan dan relawan melakukan evakuasi ke wilayah terdampak, dengan fokus pada pengungsian korban dan pemenuhan kebutuhan dasar. BNPB juga menggandeng pihak lokal untuk memastikan distribusi bantuan tepat sasaran. Perluasan lingkup bencana memerlukan kerja sama lintas sektor, termasuk pemerintah daerah dan pusat, serta masyarakat setempat.

Dalam beberapa hari terakhir, kondisi wilayah Sulteng membaik secara perlahan. Namun, risiko gempa susulan masih tinggi, terutama karena lokasi hiposentrum gempa utama berada di kedalaman 10 kilometer, yang memungkinkan terjadinya guncangan lebih lama. Tim ahli geologi BNPB memperkirakan bahwa daerah-daerah dengan struktur geologis lemah akan lebih rentan mengalami efek gelombang gempa. Langkah-langkah mitigasi seperti pemantauan terus dilakukan untuk mencegah potensi bencana yang lebih besar.

Leave a reply