Bahlil Luncurkan Buku ’10 Karya Nyata untuk Negeri’ Bahas Perjalanan hingga Hilirisasi
Jakarta kembali menjadi pusat perhatian saat Bahlil Luncurkan Buku 10 Karya Nyata untuk Negeri. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia hadir dalam acara peluncuran
Bahlil Luncurkan Buku 10 Karya: Mengungkap Hilirisasi dan Perjalanan Hidup
Jurnalnaya.com – Jakarta kembali menjadi pusat perhatian saat Bahlil Luncurkan Buku 10 Karya Nyata untuk Negeri. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia hadir dalam acara peluncuran yang menghadirkan karya monumental berjudul 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia. Buku ini tidak hanya mencatat perjalanan hidup sang menteri, tetapi juga mengupas tuntas isu strategis nasional, terutama hilirisasi sumber daya alam yang menjadi sorotan publik.
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil menyampaikan bahwa buku ini merupakan refleksi dari setengah abad perjuangannya di berbagai bidang. Mulai dari dunia bisnis hingga pemerintahan, setiap langkahnya dicatat dengan detail. Namun, yang menjadi fokus utama adalah bagaimana Indonesia mengelola kekayaan alamnya agar lebih berdaya guna dan bermanfaat bagi rakyat banyak.
Doktrinisasi di Bawah Pimpinan Prabowo
Bagian akhir buku ini menyoroti momen penting dalam sejarah pengelolaan SDA Indonesia. Bahlil menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto, saat masih menjabat sebagai Timses, memberikan arahan strategis melalui proses doktrinisasi. Arahan ini menjadi fondasi bagi kebijakan hilirisasi yang diterapkan hingga saat ini.
“Saya ingin menceritakan ujung daripada buku itu adalah hasil doktrinisasi yang diperintahkan Pak Prabowo kepada kami waktu menjadi Timses menjabarkan bagaimana pengelolaan sumber daya alam,” ujar Bahlil dalam keterangan yang dikutip dari Metro TV pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Kritik dan Realitas Hilirisasi
Melalui buku ini, Bahlil juga tidak ragu menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi dalam implementasi hilirisasi. Ia mengakui bahwa proses ini belum sepenuhnya sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945 serta nilai-nilai Pancasila. Sejumlah pihak, termasuk mendiang Faisal Basri dan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, pernah menyampaikan kritik tajam.
Kritik tersebut berpusat pada persepsi bahwa hilirisasi lebih banyak menguntungkan investor asing. Bahlil menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena Indonesia tidak mau membiayai program tersebut secara mandiri. Investasi yang masuk sebagian besar berasal dari luar negeri, sehingga manfaat ekonomi tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat Indonesia.
Danantara sebagai Solusi Strategis
Menyikapi permasalahan tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah konkret. Melalui pembentukan Danantara, pemerintah memastikan bahwa program hilirisasi akan dibiayai secara domestik. Langkah ini dinilai sebagai terobosan yang tepat untuk memastikan manfaat hilirisasi benar-benar sampai ke rakyat.
“Dan alhamdulillah karena Bapak Presiden mengerti betul bagaimana tujuan dari hilirisasi sekaran yang mengelola dan membiayai hilirisasi adalah Danantara. Jadi Ini yang menjadi apresiasi bagi kami,” tambah Bahlil.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Buku dan Hilirisasi
Apa isi utama buku 10 Karya Nyata untuk Negeri? Buku ini mengulas perjalanan hidup Bahlil Lahadalia selama setengah abad, dengan fokus pada pengelolaan sumber daya alam dan hilirisasi di Indonesia.
Siapa saja yang mengkritik hilirisasi? Mendiang Faisal Basri serta Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 pernah menyampaikan kritik terkait hilirisasi yang dinilai lebih menguntungkan pihak asing.
Apa peran Danantara dalam hilirisasi? Danantara bertugas membiayai program hilirisasi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat Indonesia.
Kapan buku ini diluncurkan? Buku ini diluncurkan pada Jumat, 7 Agustus 2026, di Jakarta.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam peluncuran buku 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia. Foto: Metro TV.
