Skip to content
Royal desk
Agustus 5, 2026 JurnalNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

Banjir Bandang di Afghanistan Tewaskan 20 Orang – Lebih dari 100 Hilang

Christopher Williams - jurnalnaya.com 3 mins read

ng, Lebih dari 100 Hilang Banjir Bandang di Afghanistan Tewaskan 20 Orang - Kabul – Sebuah banjir bandang mengerikan melanda Provinsi Nuristan, di timur laut

Banjir Bandang di Afghanistan Tewaskan 20 Orang – Lebih dari 100 Hilang

Banjir Bandang di Afghanistan Tewaskan 20 Orang, Lebih dari 100 Hilang

Banjir Bandang di Afghanistan Tewaskan 20 Orang – Kabul – Sebuah banjir bandang mengerikan melanda Provinsi Nuristan, di timur laut Afghanistan, pada hari Senin, 20 Juli 2026. Bencana alam ini memicu kekacauan besar, dengan setidaknya 20 korban jiwa tercatat dan lebih dari 100 warga hilang. Banjir terjadi setelah hujan deras berkepanjangan, yang menyebabkan sungai melebar dan meluber ke desa-desa terpencil. Pihak berwenang mengungkapkan bahwa jumlah korban bisa meningkat karena pencarian dan evakuasi masih terus berlangsung, terutama di area yang terisolasi dan sulit diakses.

Dampak pada Infrastruktur dan Ekonomi

Banjir bandang tersebut menghancurkan puluhan rumah, toko, dan fasilitas umum, termasuk jalan raya yang mengalami kerusakan parah. Ratusan warga terkena dampak langsung, dengan puluhan rumah rusak berat dan banyak yang terendam air setinggi meteran. Dari data yang dihimpun, sekitar 80 orang mengalami cedera, sementara infrastruktur seperti jembatan dan kabel listrik juga mengalami gangguan. Otoritas setempat menyatakan bahwa kerusakan ini akan berdampak signifikan terhadap perekonomian daerah dan kebutuhan mendasar masyarakat.

Kondisi tanah yang kurang menyerap air, akibat deforestasi dan perubahan pola hujan, memperparah dampak banjir. Badan penanggulangan bencana Afghanistan melaporkan bahwa daerah terparah terkena banjir adalah Parun, ibu kota provinsi Nuristan, yang mengalami genangan air hingga beberapa hari setelah hujan berhenti. Penduduk setempat mengalami kesulitan mengakses makanan, air bersih, dan layanan kesehatan karena jalan utama terputus dan listrik terganggu.

Tantangan dalam Operasi Penyelamatan

Operasi pencarian dan penyelamatan yang dilakukan oleh pasukan lokal dan organisasi internasional terkendala oleh medan yang curam dan jalan rusak akibat banjir. Mobil-mobil berat kesulitan masuk ke desa-desa yang terjauh, sehingga tim penyelamat harus menggunakan perahu dan jalur kaki. Kondisi cuaca yang buruk, seperti hujan dan angin kencang, juga memperlambat upaya evakuasi. Sejumlah warga yang terjebak di daerah terisolasi masih berharap bantuan darurat dapat tiba sebelum kondisi memburuk lebih jauh.

Dikutip dari India Today, Selasa, 21 Juli 2026, lembaga nasional penanggulangan bencana Afghanistan menyebut Parun sebagai daerah terparah terkena bencana. Jumlah korban dan hilangnya warga di daerah tersebut terus meningkat, dengan kecamatan tertentu dilaporkan kehilangan hingga 50 persen populasi mereka. Bantuan darurat dari organisasi lokal dan internasional sedang diarahkan ke daerah terdampak, tetapi kebutuhan masyarakat masih jauh dari terpenuhi.

Konteks Perubahan Iklim dan Penyebab Banjir

Afghanistan dikenal rentan terhadap bencana alam akibat perubahan iklim yang semakin ekstrem. Kenaikan frekuensi hujan deras, dipadukan dengan hilangnya hutan di Nuristan dan provinsi lainnya, memperparah risiko terjadinya banjir bandang. Wilayah yang terkena banjir ini memiliki kemiringan curam dan ketergantungan pada sumber air hujan, sehingga sedikitnya satu hari hujan bisa mengakibatkan bencana besar. Ahli meteorologi menyebutkan bahwa tren iklim di Afghanistan memperlihatkan peningkatan curah hujan hingga 20 persen dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Badan Pangan PBB telah mengingatkan bahwa daerah-daerah terpencil di Afghanistan rentan terhadap bencana alam karena kurangnya sistem pertanian dan infrastruktur yang kuat. Jumlah penduduk yang tinggal di daerah rawan banjir juga semakin meningkat, terutama akibat migrasi akibat konflik dan ketidakstabilan politik. Perubahan iklim dan deforestasi menjadi faktor utama dalam meningkatkan intensitas bencana, termasuk banjir bandang yang terjadi pada 20 Juli 2026.

Respon dan Upaya Pemulihan

Dalam upaya mengatasi krisis ini, pemerintah Afghanistan telah mengaktifkan tanggap darurat dan berkoordinasi dengan organisasi internasional seperti UNICEF dan PBB. Bantuan darurat berupa makanan, pakaian, dan tenda darurat mulai tiba di daerah terdampak, tetapi masih diperlukan waktu untuk menjangkau semua warga yang terkena dampak. Organisasi lokal juga terus berupaya memberikan bantuan, meskipun keterbatasan sumber daya memperlambat proses.

Pemulihan pasca-bencana memerlukan kerja sama antara pemerintah, organisasi internasional, dan masyarakat setempat. Jumlah penduduk yang terdampak banjir bandang di Afghanistan mencapai ratusan ribu, dan kebutuhan darurat seperti air bersih, obat-obatan, dan perlengkapan kebutuhan sehari-hari menjadi prioritas utama. Jumlah korban yang ditemukan hingga saat ini masih terus berubah, dan lembaga penanggulangan bencana mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir bandang berikutnya.

Leave a reply