BNPB: Banjir di Parigi Moutong Rendam 166 Rumah dan 3 Jembatan Rusak
BNPB: Banjir di Parigi Moutong Rendam 166 Rumah dan 3 Jembatan Rusak BNPB - Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
BNPB: Banjir di Parigi Moutong Rendam 166 Rumah dan 3 Jembatan Rusak
BNPB – Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir yang melanda Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada hari Sabtu, 20 Juni 2026, menimbulkan dampak luas. BNPB menyatakan bahwa peristiwa ini disebabkan oleh hujan lebat yang terus-menerus, sehingga menyebabkan kenaikan debit air di beberapa sungai. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa air yang meluap mengakibatkan kerusakan di sejumlah area permukiman, dengan 166 unit rumah terkena dampak. Dalam pernyataannya, Abdul juga menekankan pentingnya koordinasi antara pihak BNPB dengan instansi terkait untuk menangani situasi darurat ini.
Kondisi Terparah di Wilayah Parigi Moutong
Sebagai bagian dari upaya penanganan, BNPB melakukan pendataan awal untuk mengetahui tingkat kerusakan. Hasilnya menunjukkan bahwa Desa Masari menjadi wilayah paling terdampak, dengan 70 kepala keluarga (KK) mengalami kerugian dan 10 KK harus melakukan evakuasi. Di Desa Pombalowo, 25 KK terkena banjir, sedangkan 22 KK terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Di sisi lain, Desa Dolago Padang mencatatkan 50 KK yang terkena dampak, sementara Desa Parigimpu hanya melaporkan 1 KK atau 6 orang yang terkena. Menurut Abdul Muhari, proses pendataan di wilayah lain masih berlangsung untuk memperoleh angka yang lebih lengkap.
“Banjir yang terjadi berdampak pada 166 unit rumah warga, dengan dua dari mereka mengalami kerusakan ringan,” kata Abdul dalam keterangan resmi yang diterima pada Senin, 22 Juni 2026.
Pendataan juga menunjukkan bahwa banjir tidak hanya merusak properti, tetapi juga mengganggu kehidupan warga sehari-hari. Sejumlah rumah terendam air hingga setinggi satu meter, sehingga memicu keluhan dari warga yang kesulitan mengakses bahan makanan dan logistik. BNPB mencatat bahwa kondisi ini menimbulkan risiko kesehatan, seperti penyakit yang bisa menyebar akibat air tergenang. Selain itu, banjir juga menghambat akses jalan utama, sehingga memperlambat proses evakuasi dan distribusi bantuan.
Respons BNPB dan Upaya Penanganan Darurat
Dalam menangani bencana ini, BNPB telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong serta lembaga-lembaga lain untuk memberikan bantuan. Selain mengirim tim pendataan, BNPB juga melakukan evaluasi terhadap tingkat keterdampakan dan menyiapkan rencana mitigasi jangka panjang. Menurut Abdul Muhari, salah satu prioritas utama saat ini adalah memastikan kebutuhan dasar warga terdampak, termasuk selimut, tikar, logistik makanan, dan beras.
BNPB mengungkapkan bahwa genangan air di beberapa titik mulai surut, tetapi kondisi ini masih memerlukan pemantauan ketat. Warga yang terkena banjir mulai kembali ke rumah dan melakukan pembersihan, meski beberapa masih membutuhkan bantuan tambahan. Dalam upaya mempercepat pemulihan, BNPB telah mengoordinasikan distribusi bantuan kepada warga yang terdampak, sambil tetap memantau perkembangan situasi.
“Sampai saat ini, tidak ada laporan korban jiwa akibat kejadian ini,” tambah Abdul.
Bencana banjir juga merusak infrastruktur lokal. Dari laporan BNPB, tiga jembatan mengalami kerusakan berat, sementara satu saluran air jebol akibat arus deras. Jembatan yang rusak membatasi akses transportasi antar desa, sehingga memperlambat proses evakuasi dan pengangkutan bantuan. Selain itu, banjir menghancurkan sekitar 70 hektare lahan persawahan dan 2 hektare kebun, yang berdampak signifikan terhadap produksi pertanian lokal. Dengan demikian, BNPB memperkirakan bahwa kebutuhan logistik tidak hanya untuk tempat tinggal, tetapi juga untuk menjamin ketahanan pangan masyarakat setempat.
BNPB juga mengingatkan bahwa penanganan bencana ini memerlukan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat. Selain bantuan dari pihak pemerintah, warga setempat diminta untuk bekerja sama dalam membersihkan area tergenang dan memperbaiki infrastruktur yang rusak. Sebagai langkah awal, tim BNPB telah menetapkan titik-titik pengumpulan bantuan untuk memudahkan distribusi ke wilayah yang paling terkena. Dengan kerja sama yang baik, BNPB optimis bahwa dampak banjir dapat dikurangi secepat mungkin.
