BNPT Sebut Perubahan Pola Ancaman Terorisme Tuntut Adaptasi Teknologi
Jakarta — Fenomena penyebaran paham radikal kini mengalami transformasi yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Tidak lagi bergantung sepenuhnya
BNPT Sebut Perubahan Pola Ancaman Terorisme Tuntut Adaptasi Teknologi
Jurnalnaya.com – Jakarta — Fenomena penyebaran paham radikal kini mengalami transformasi yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pertemuan tatap muka maupun struktur organisasi konvensional, gerakan-gerakan radikal memanfaatkan ekosistem digital untuk memperluas jangkauan pengaruhnya secara masif. Kondisi tersebut memaksa seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kapasitas, menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi, serta memperkuat sinergi dalam upaya pencegahan yang lebih komprehensif.
Menurut Kepala BNPT Eddy Hartono, ancaman terorisme saat ini menunjukkan sifat yang semakin adaptif dan persisten terhadap berbagai perubahan lingkungan. Ia menekankan bahwa pada usia organisasi yang ke-16 tahun, BNPT harus mampu berpikir secara adaptif dan inovatif. Pernyataan tersebut disampaikan saat dikonfirmasi di Jakarta, sebagaimana dilansir dari Antara pada Rabu, 22 Juli 2026.
Pada zaman sekarang proses doktrin terorisme tidak lagi membutuhkan organisasi maupun tatap muka, tetapi melalui ruang digital.
Eddy menjelaskan bahwa di ranah digital, jaringan terorisme bertransformasi melalui tiga mekanisme utama, yakni rekrutmen, propaganda, dan pendanaan. Di tengah perubahan modus operandi tersebut, Indonesia tercatat berhasil mempertahankan tren positif dalam penanggulangan terorisme. BNPT Sebut Perubahan Pola Ancaman menjadi perhatian serius bagi seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menghadapi tantangan baru ini.
Sejak tahun 2024 hingga saat ini, tidak tercatat adanya aksi terorisme di Indonesia. Selama kurun waktu tiga tahun terakhir, aparat intelijen dan penegak hukum telah berhasil mencegah berbagai rencana serangan teror. Eddy menilai bahwa kunci keberhasilan ini terletak pada kolaborasi yang solid antara berbagai pihak terkait.
Sejak 2024 hingga saat ini tidak terjadi aksi terorisme. Selama 3 tahun terakhir, aparat intelijen dan aparat penegak hukum mampu mencegah berbagai rencana serangan teror. Kunci dari keberhasilan itu adalah kolaborasi.
Strategi Adaptasi Teknologi dalam Penanggulangan Terorisme
Capaian tersebut menurutnya merupakan hasil sinergi antara aparat intelijen, penegak hukum, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, akademisi, tokoh agama, organisasi masyarakat, media, serta partisipasi aktif dari masyarakat luas. BNPT Sebut Perubahan Pola Ancaman juga menuntut peningkatan kemampuan teknologi dalam monitoring dan analisis data ancaman.
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-16 BNPT yang mengusung tema “Kolaborasi Jaga Indonesia” menjadi momentum penting untuk memperkuat kerja sama lintas sektor. Hal ini diperlukan guna menghadapi tantangan terorisme yang terus berkembang, khususnya di era digital. BNPT menilai bahwa keberhasilan menjaga Indonesia tetap aman dari aksi teror tidak hanya bergantung pada aparat keamanan.
Diperlukan pula peningkatan literasi digital, kewaspadaan masyarakat, serta penguatan ketahanan terhadap penyebaran ideologi kekerasan di ruang siber. Adaptasi teknologi menjadi kunci utama dalam menghadapi BNPT Sebut Perubahan Pola Ancaman yang semakin kompleks dan dinamis. Melalui pendekatan holistik dan terintegrasi, Indonesia diharapkan dapat mempertahankan capaian positif dalam penanggulangan terorisme ke depan.
Ilustrasi sejumlah anggota Densus 88 menyisir lokasi penangkapan teroris. FOTO ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
