Latest Program: AS Serang 140 Target Militer Iran di Putaran Ketiga Operasi Militer
Latest Program: AS Serang 140 Target Militer Iran dalam Operasi Militer Ketiga Latest Program – Washington melaporkan telah menyelesaikan serangan militer
Latest Program: AS Serang 140 Target Militer Iran dalam Operasi Militer Ketiga
Latest Program – Washington melaporkan telah menyelesaikan serangan militer ketiga terhadap Iran dalam seminggu terakhir, setelah terjadi serangan baru terhadap kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Operasi ini disebut sebagai bagian dari strategi pertahanan AS untuk memastikan keamanan jalur perdagangan energi global, terutama di daerah yang menjadi lalu lintas utama minyak mentah dan gas dari negara-negara Teluk ke pasar internasional.
Operasi Militer dengan Teknologi Presisi
Operasi militer terbaru ini dilakukan oleh Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) sebagai bagian dari Latest Program yang bertujuan mengurangi kemampuan Iran menyerang kapal-kapal komersial. Pasukan AS menargetkan sekitar 140 lokasi militer Iran, menggunakan amunisi berpemandu presisi yang diluncurkan dari pesawat tempur, drone, serta kapal perang. Serangan dilakukan dalam tiga tahap, dengan fokus pada infrastruktur pertahanan Iran dan fasilitas militer strategis.
“Selama tiga malam serangan pekan ini, CENTCOM menargetkan lebih dari 300 objek atas perintah Panglima Tertinggi untuk membatasi kemampuan Iran menyerang kapal-kapal komersial yang berlayar bebas di Selat Hormuz,” demikian pernyataan yang dirilis oleh Anadolu Agency, Minggu, 12 Juli 2026.
Menurut laporan militer AS, operasi militer ketiga ini bertujuan memperkuat dominasi di Selat Hormuz, yang menjadi titik vital bagi ekonomi dunia. Selama Latest Program, pasukan AS mengklaim telah melindungi lebih dari 800 kapal komersial sejak awal Mei 2026, dengan total pengangkutan minyak mentah mencapai 400 juta barel. Penyerangan ini juga menargetkan fasilitas tempat penyimpanan senjata dan pusat komando militer Iran.
Kapal Kargo Jadi Korban Serangan Terbaru
Dalam Latest Program kali ini, AS menyebut bahwa Kapal Kargo M/V GFS Galaxy menjadi korban serangan rudal yang dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Serangan terjadi saat kapal tersebut melintas di Selat Hormuz, dan menurut laporan pemerintah AS, satu awak sipil tewas serta beberapa bagian kapal rusak parah. Insiden ini memicu reaksi internasional, terutama dari negara-negara yang bergantung pada alur perdagangan tersebut.
“Kapal tersebut menjadi korban serangan rudal, yang mengakibatkan satu penumpang hilang dan kerusakan parah pada benda yang terkena,” tulis pernyataan resmi AS.
IRGC membantah tuduhan tersebut, menyatakan bahwa pihaknya hanya melepaskan tembakan peringatan setelah kapal tidak mengubah jalurnya sesuai instruksi dari otoritas Iran. Pernyataan ini disampaikan sebagai upaya mengurangi konflik dan menegaskan bahwa serangan rudal bukan bagian dari Latest Program yang disengaja sebagai tindakan militer terbuka.
Strategi Iran dan Dampak Ekonomi Global
Menyusul serangan rudal terhadap kapal kargo, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan. Langkah ini diambil setelah upaya diplomatis di Muscat, Oman, gagal mencapai kesepakatan antara pihak AS dan Iran. Penutupan selat tersebut berdampak signifikan pada pasokan minyak mentah ke pasar internasional, dengan potensi peningkatan harga yang bisa mencapai 15-20 persen dalam minggu-minggu mendatang.
“Kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz harus berhati-hati karena ancaman dari Iran yang terus meningkat dalam Latest Program terbarunya,” kata seorang analis energi internasional.
Selat Hormuz, yang hanya lebarnya sekitar 56 km, memegang peran kritis dalam distribusi minyak mentah ke seluruh dunia. Operasi militer ketiga AS disebut sebagai bagian dari Latest Program yang bertujuan memastikan dominasi di area tersebut, meskipun Iran masih mempertahankan kemampuan operasionalnya melalui jaringan militer yang tersebar di seluruh wilayah Teluk.
Latest Program juga mencakup peningkatan kehadiran kapal-kapal perang AS di Selat Hormuz, dengan armada yang ditempatkan di dekat fasilitas pertahanan Iran. Selain itu, AS menegaskan bahwa operasi ini berjalan secara terkoordinasi, melibatkan intelijen dan satuan tempur dari berbagai negara sekutu. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap serangan-serangan Iran yang terus dilakukan sejak beberapa bulan terakhir.
Perbandingan Operasi Sebelumnya dan Tantangan Mendatang
Operasi militer ketiga AS terhadap Iran ini sebenarnya mengikuti pola serangan-serangan sebelumnya, yang terjadi pada bulan April dan Mei 2026. Namun, kali ini AS menyebutkan bahwa strategi yang digunakan lebih fokus pada serangan presisi, dengan target yang lebih spesifik dan tingkat kerusakan yang minimal pada fasilitas sipil. Pihak AS menegaskan bahwa operasi ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur Iran, tetapi juga mengirimkan pesan kuat kepada negara-negara kawasan.
“Operasi ini memperlihatkan kemampuan AS dalam Latest Program terbaru, menggabungkan teknologi canggih dan intelijen terkini untuk menekan kekuatan militer Iran secara efektif,” ungkap seorang pejabat militer AS.
Meskipun serangan ini berhasil mengurangi kapasitas militer Iran, pihak Iran menegaskan bahwa mereka akan melanjutkan Latest Program mereka sendiri, termasuk peningkatan serangan rudal dan pemboman target strategis. Konflik antara AS dan Iran yang berlangsung dalam Latest Program ini diharapkan dapat ditekan melalui negosiasi, meskipun tuntutan masing-masing pihak tetap tinggi.
Kehadiran Dunia dalam Operasi Militer
Dalam Latest Program ini, kehadiran pihak internasional juga menjadi sorotan. Beberapa negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa menyatakan dukungan terhadap upaya AS melindungi jalur perdagangan energi. Sementara itu, PBB mencoba menjembatani perbedaan kepentingan antara kedua pihak, dengan menyebut bahwa serangan militer harus diimbangi dengan upaya diplomatis untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.
“Kehadiran dunia dalam Latest Program ini menunjukkan kekhawatiran global terhadap ketidakstabilan di Selat Hormuz, yang secara langsung
