Main Agenda: Ditahan Israel, Direktur RS Gaza Diduga Alami Kekerasan Fisik yang Mengancam Jiwa
Direktur RS Gaza Ditahan Israel, Diduga Alami Kekerasan Fisik yang Mengancam Jiwa Main Agenda - Organisasi Physicians for Human Rights (PHR) melaporkan bahwa
Direktur RS Gaza Ditahan Israel, Diduga Alami Kekerasan Fisik yang Mengancam Jiwa
Main Agenda – Organisasi Physicians for Human Rights (PHR) melaporkan bahwa Hussam Abu Safiya, direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Jalur Gaza, tengah dalam kondisi kritis setelah ditahan oleh pasukan Israel. Informasi ini dirilis pada 2 Juli 2026, menyusul laporan pengacara Abu Safiya, Nasser Odeh, yang mengatakan bahwa klieninya mengalami cedera serius dan tanda-tanda penyiksaan fisik saat diperiksa di Penjara Nitzan. PHR menekankan bahwa kondisi ini mengkhawatirkan karena menyebutkan kekerasan yang dialaminya bisa mengancam nyawa.
Kondisi Kritis dan Penyiksaan Fisik
Kondisi Abu Safiya yang memburuk diperparah oleh perlakuan kasar selama penahanannya. Menurut laporan, ia dibawa ke ruang pertemuan dengan tangan dan kaki diborgol, serta diperhatikan oleh petugas yang mengenakan masker. Luka-luka baru di area kepala, mata, telinga, dan leher membuat kondisi kesehatannya semakin kritis, menurut Odeh. Dalam wawancara terpisah, ia mengatakan bahwa Abu Safiya sulit berbicara dan bergerak, sehingga menyebabkan kecemasan di kalangan tenaga medis.
“Kondisi fisik Abu Safiya sangat memburuk hingga sulit dikenali, bahkan dalam kondisi terbaik,” ujar Odeh. “Dia harus segera dikeluarkan dari penahanan karena nyawanya dalam bahaya.”
PHR meminta pemerintah Israel segera membebaskan Abu Safiya dan semua tenaga medis lainnya yang ditahan tanpa alasan jelas atau proses persidangan. Laporan mereka mengungkapkan bahwa penyiksaan fisik dan kekerasan yang dialami Abu Safiya telah mengganggu fungsi tubuhnya, sehingga menimbulkan pertanyaan serius tentang perlakuan yang diterima oleh tahanan medis.
Histori Serangan dan Penahanan
Abu Safiya menjadi korban kekerasan setelah serangan Israel terhadap Rumah Sakit Kamal Adwan pada 24 November 2024. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas kesehatan, serta mengancam nyawa pasien dan staf. Meskipun sang putra tewas dalam serangan sebelumnya pada 26 Oktober 2024, Abu Safiya memutuskan tetap berada di rumah sakit untuk melanjutkan tugas perawatannya.
Militer Israel menangkap Abu Safiya pada 27 Desember 2024 setelah menggerebek tempat itu. PHR memberikan pernyataan bahwa tahanan seperti Abu Safiya harus mendapat perlakuan adil, terutama karena ia adalah orang yang bekerja di sektor kesehatan. Kepala Departemen Tahanan dan Narapidana PHR, Naji Abbas, menyebut kondisi kritis Abu Safiya sebagai indikasi terburuk dari penyiksaan yang terjadi di bawah otoritas Israel.
“Laporan tentang kondisi Abu Safiya adalah kekhawatiran terbesar yang diterima organisasiku sejak konflik di Gaza memanas,” tambah Abbas. “Kita harus memastikan bahwa tahanan medis tidak hanya dipertahankan tetapi juga dilindungi dari bahaya fisik.”
Penyelidikan dan Pernyataan Internasional
Dalam beberapa hari terakhir, PHR memperkuat permintaannya agar Israel melakukan penyelidikan independen terhadap kekerasan yang dialami Abu Safiya. Mereka menyoroti bahwa tahanan harus diperlakukan secara manusiawi, terlepas dari sifatnya sebagai “kombatan tidak sah” yang ditetapkan oleh Israel pada Februari 2025. Pernyataan ini menyusul laporan bahwa Abu Safiya dipindahkan ke sel isolasi pada 3 Juni 2026, di mana ia diperlakukan secara berbeda dibandingkan dengan tahanan biasa.
Kondisi Abu Safiya menimbulkan reaksi dari organisasi internasional lainnya, termasuk United Nations. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa penggunaan kekerasan fisik terhadap dokter dan perawat oleh Israel mencerminkan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. PHR menegaskan bahwa ini bukan kejadian isolasi, melainkan bagian dari strategi yang dilakukan oleh Israel untuk menghancurkan sistem kesehatan di Gaza.
Langkah Selanjutnya dan Harapan untuk Pembebasan
Dalam upaya memperkuat pernyataannya, PHR melibatkan tim medis independen untuk mengevaluasi laporan penyiksaan yang diterima dari Abu Safiya. Organisasi ini menekankan bahwa perlakuan terhadap tahanan medis harus transparan dan dapat dipertanggungjawabkan, terutama karena mereka berperan penting dalam menjaga kesehatan warga sipil. Main Agenda menyoroti bahwa tindakan Israel ini bisa menjadi bahan pertimbangan dalam menilai kesehatan politik mereka di mata dunia.
Sejumlah pihak, termasuk komunitas internasional, meminta Israel memperbaiki kondisi tahanan medis dan mengungkapkan alasan penahanan Abu Safiya. PHR juga menyebut bahwa jika kekerasan terus terjadi, maka tindakan penahanan bisa dianggap sebagai bentuk pemukulan terhadap pelayanan kesehatan di Jalur Gaza. Main Agenda menjadi salah satu isu utama yang dibawa oleh organisasi ini untuk mengingatkan dunia tentang keterlibatan Israel dalam konflik medis di wilayah tersebut.
Analisis dan Dampak pada Masyarakat
Kondisi Abu Safiya menciptakan ketegangan di antara masyarakat medis di Gaza. Banyak dokter dan perawat merasa terintimidasi karena tindakan Israel yang semakin memperketat pengawasan terhadap staf kesehatan. PHR menilai bahwa ini memicu kecemasan bahwa operasi kesehatan bisa terganggu akibat penahanan terhadap pelaku utama.
“Main Agenda ini menggambarkan kekhawatiran global terhadap pelanggaran hak asasi manusia di bawah otoritas Israel,” kata Abbas. “Kita harus memastikan bahwa para pelaku kesehatan tidak hanya menjalani tugasnya tetapi juga dilindungi dari bahaya yang mengancam hidup mereka.”
Dengan adanya laporan kekerasan fisik terhadap Abu Safiya, PHR berharap bahwa Israel akan segera mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan nyawanya. Selain itu, organisasi ini menuntut adanya penyelidikan yang menyeluruh dan akuntabilitas penuh terhadap kebijakan penahanan mereka. Main Agenda menjadi alat penting dalam membangun kesadaran internasional akan masalah ini.
