Skip to content
Royal desk
Agustus 5, 2026 JurnalNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

Visit Agenda: Tiongkok Desak AS-Iran Tempuh Jalur Diplomasi, Tolak Penggunaan Kekuatan Militer

Lisa Thomas - jurnalnaya.com 3 mins read

plomasi, Tolak Penggunaan Kekuatan Militer Visit Agenda - Dalam rangkaian Visit Agenda yang sedang berlangsung, Tiongkok dengan tegas meminta Amerika Serikat

Visit Agenda: Tiongkok Desak AS-Iran Tempuh Jalur Diplomasi, Tolak Penggunaan Kekuatan Militer

Visit Agenda: Tiongkok Desak AS-Iran Tempuh Jalur Diplomasi, Tolak Penggunaan Kekuatan Militer

Visit Agenda – Dalam rangkaian Visit Agenda yang sedang berlangsung, Tiongkok dengan tegas meminta Amerika Serikat dan Iran untuk kembali ke meja perundingan. Negara-negara besar di kawasan Timur Tengah terus menghadapi ketegangan diplomatik yang memicu kemungkinan eskalasi konflik, dan Beijing berharap perundingan menjadi jalan keluar untuk menghindari penggunaan kekuatan militer yang berulang.

Beijing menekankan bahwa tindakan militer tidak akan mengakhiri perdebatan antara AS dan Iran, justru menambah kompleksitas situasi. Dalam sebuah pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan, “Visit Agenda ini menekankan pentingnya dialog sebagai solusi utama untuk perselisihan regional. Serangan militer hanya akan memperburuk hubungan antara dua negara dan mengancam stabilitas kawasan.”

Komentar Diplomatik dan Tuntutan untuk Kesepakatan Permanen

“Kami menyerukan kedua belah pihak untuk menghormati hasil perundingan dan menjaga konsistensi dalam upaya menyelesaikan konflik,” tambah juru bicara Kementerian Luar Negeri, Mao Ning, saat mengumumkan pandangannya di Beijing. Ia menyoroti bahwa kerja sama antara AS dan Iran dalam rangkaian Visit Agenda bisa menjadi fondasi untuk perjanjian yang lebih kuat di masa depan.

Pernyataan Mao Ning muncul setelah militer AS melakukan serangan terhadap 80 lokasi strategis di Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz. Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang 85 fasilitas militer AS, termasuk markas Armada Kelima Angkatan Laut di Bahrain dan pangkalan udara di Kuwait. Tiongkok menilai tindakan ini memicu potensi konflik yang bisa berdampak luas.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer selama Visit Agenda tidak efektif untuk mencapai perdamaian. “Pernyataan perang hanya akan menambah ketegangan dan mengurangi kesempatan untuk mencapai kesepakatan jangka panjang,” kata Mao Ning. Hal ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Tiongkok yang konsisten menekankan pentingnya dialog sebagai alat utama dalam menyelesaikan perselisihan internasional.

Visit Agenda yang diusung Tiongkok menawarkan kerangka kerja untuk mengatur agenda perundingan antara AS dan Iran. Dalam upaya ini, Beijing berharap kedua pihak dapat menyelesaikan masalah nuklir Iran dan keamanan kawasan Timur Tengah melalui komunikasi terbuka. Mao Ning menambahkan bahwa negara-negara lain, seperti Rusia dan Tiongkok, siap menjadi mediator dalam proses ini.

Sebagai bagian dari Visit Agenda, Tiongkok juga mengkritik serangan militer AS yang dianggap terlalu reaktif. “Jika AS ingin menyelesaikan konflik, mereka harus menunjukkan komitmen untuk tidak melibatkan kekuatan militer dalam pembicaraan,” ujar Mao Ning. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Tiongkok memandang Visit Agenda sebagai momentum penting untuk menegaskan keinginan kedua negara untuk menghindari perang.

Konflik antara AS dan Iran memasuki tahap kritis setelah serangan militer saling. Tiongkok meminta kedua belah pihak untuk memperhatikan dampak ekonomi dan politik dari tindakan mereka. “Visit Agenda ini harus menjadi jembatan untuk memperkuat hubungan bilateral dan menegaskan kerja sama global,” lanjut Mao Ning. Ia menekankan bahwa solusi damai akan lebih efektif daripada pertumpahan darah.

Leave a reply