Skip to content
Royal desk
Agustus 5, 2026 JurnalNaya menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.
News

Yusril Sebut Pendidikan Etika Sejak Dini jadi Kunci Cegah Korupsi

Emily Thomas - jurnalnaya.com 3 mins read

Yusril Tekankan Pentingnya Pendidikan Etika Sejak Awal dalam Mencegah Korupsi Yusril Sebut Pendidikan Etika Sejak Dini jadi Kunci Cegah Korupsi – Jakarta

Yusril Sebut Pendidikan Etika Sejak Dini jadi Kunci Cegah Korupsi

Yusril Tekankan Pentingnya Pendidikan Etika Sejak Awal dalam Mencegah Korupsi

Yusril Sebut Pendidikan Etika Sejak Dini jadi Kunci Cegah Korupsi – Jakarta, pada 19 Juli 2026, Yusril Ihza Mahendra memberikan pandangan penting mengenai peran pendidikan etika sejak usia dini dalam upaya mengurangi korupsi di Indonesia. Dalam acara yang diresmikan di Pantai Indah Kapuk, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan ini menekankan bahwa nilai-nilai moral dan etika harus menjadi bagian dari pendidikan sejak kecil. Menurutnya, proses pembentukan karakter yang solid membutuhkan konsistensi dan keberlanjutan, terutama di masa-masa awal kehidupan seseorang.

Etika Sebagai Dasar Perilaku Sosial

Yusril menegaskan bahwa pendidikan etika tidak hanya berkaitan dengan akademik, tetapi juga dengan kebiasaan sehari-hari yang menjadi fondasi perilaku individu. Ia menyatakan bahwa tanpa dasar yang kuat di masa kecil, masyarakat sulit membentuk sistem yang berintegritas. “Kita perlu mengajarkan etika sejak dini agar generasi muda tumbuh dengan kebiasaan yang baik,” ujarnya dalam wawancara dengan Antara. “Mereka akan menjadi pelaku tindakan yang jujur, bukan hanya karena tekanan eksternal, tetapi karena rasa hormat internal terhadap nilai-nilai tulus.”

Dalam konteks korupsi, Yusril berargumen bahwa kebiasaan buruk sering muncul dari ketidakpahaman terhadap etika. Ia menjelaskan bahwa penguasaan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan harus menjadi bagian dari kurikulum pendidikan sejak tingkat dasar. Hal ini dapat dilakukan melalui metode pengajaran yang kreatif, seperti cerita, drama, atau diskusi kelompok. Menurutnya, pendekatan ini lebih efektif daripada sekadar menghafal aturan yang tidak memiliki makna dalam konteks nyata.

Kontribusi Ajaran Agama dalam Pendidikan Etika

Yusril juga menyoroti peran ajaran agama dalam memperkuat nilai-nilai etika. Ia menyatakan bahwa agama sering menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat dalam membentuk kebiasaan moral yang tahan lama. “Ajaran agama memberikan panduan tentang cara hidup yang berintegritas, yang sangat penting dalam menghadapi tantangan korupsi,” terangnya. Ia menambahkan bahwa masyarakat yang memahami prinsip-prinsip agama cenderung memiliki perilaku lebih teratur dan lebih tulus dalam menjalani kehidupan.

Dalam acara tersebut, Yusril juga menunjukkan dokumen pendukung yang membahas keterlibatan lembaga pendidikan dalam membangun kebiasaan baik. Dokumen ini menjelaskan bahwa lembaga pendidikan, baik sekolah maupun keluarga, memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan rasa integritas kepada anak-anak. Ia menekankan bahwa keberhasilan pendidikan etika tidak bisa dicapai hanya melalui lembaga pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi masyarakat luas.

Pendidikan etika sejak dini, menurut Yusril, adalah kunci untuk membangun masyarakat yang lebih adil. Ia mencontohkan bahwa anak-anak yang diajarkan etika sejak kecil cenderung memiliki komitmen yang lebih kuat terhadap keadilan, bahkan ketika menghadapi situasi yang menuntut keuntungan pribadi. “Jika kebiasaan baik terbentuk sejak dini, maka tindakan korupsi akan terasa lebih tidak wajar,” ujarnya. Ia berharap bahwa pendidikan ini bisa dilakukan secara rutin di semua tingkatan, mulai dari keluarga hingga institusi pendidikan tinggi.

Korupsi, menurut Yusril, adalah hasil dari pengaruh lingkungan yang tidak menyediakan contoh yang baik. Ia menekankan bahwa anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang penuh etika akan lebih mampu menolak tindakan korupsi saat dewasa. “Etika harus menjadi bagian dari hidup sehari-hari, bukan hanya sekadar topik pembicaraan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa pendidikan ini membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang nilai-nilai moral yang sehat.

Leave a reply